Setia Hingga Akhir Hayat: Pesan Haru Bimwin KUA Jatilawang
Banyumas — Di KUA Jatilawang yang dipenuhi suasana khidmat, harapan tentang masa depan sebuah rumah tangga ditanamkan dengan penuh kehangatan. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin M. Izzudin dan Dewi Prasetyowati. Namun pertemuan itu bukan sekadar sesi bimbingan biasa—ia menjelma menjadi ruang perenungan mendalam tentang arti kesetiaan hingga akhir hayat. Rabu (11/03)
Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah menuturkan bahwa pernikahan bukan hanya pertemuan dua insan yang saling mencinta, melainkan janji suci yang disaksikan langit dan bumi. Sebuah komitmen yang tidak berhenti pada hari akad, tetapi harus dijaga dengan kesabaran, pengorbanan, dan kesetiaan yang tak lekang oleh waktu.
“Setia dalam rumah tangga bukan hanya ketika semuanya indah,” tutur Taubah dengan suara lembut namun penuh makna. “Kesetiaan justru diuji ketika cobaan datang—ketika pasangan tidak lagi sempurna di mata kita, ketika keadaan tidak seindah yang dibayangkan. Di situlah cinta yang sejati menemukan maknanya.”
Di hadapan calon pengantin tersebut, ia menggambarkan rumah tangga sebagai perjalanan panjang yang akan melewati berbagai musim kehidupan—musim bahagia, musim harap, bahkan musim air mata. Dalam setiap musim itu, kesetiaan menjadi pelita yang menjaga cinta agar tetap hidup.
M. Izzudin dan Dewi Prasetyowati menyimak setiap nasihat dengan penuh kesungguhan. Sesekali keduanya saling memandang, seolah menyadari bahwa perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan perjalanan seumur hidup yang memerlukan keteguhan hati.
Muhammad Taubah juga mengingatkan bahwa kesetiaan bukan hanya tentang tetap bersama ketika keadaan mudah, tetapi tentang tetap menggenggam tangan pasangan ketika dunia terasa berat.
“Suatu hari nanti rambut akan memutih, langkah akan melambat, dan wajah tidak lagi seindah masa muda,” ujarnya. “Namun jika kesetiaan dijaga, maka cinta akan tetap hidup—bahkan semakin indah—hingga akhir hayat.”
Bimbingan perkawinan tersebut berlangsung penuh kehangatan. Di tengah kesederhanaan ruangan, kata-kata yang terucap terasa seperti doa yang dipanjatkan bagi masa depan dua insan yang akan mengikat janji suci.
Bagi KUA Jatilawang, Bimwin bukan sekadar program pembinaan, tetapi juga ikhtiar menanamkan nilai-nilai luhur agar setiap rumah tangga yang lahir tidak hanya berdiri di atas cinta, tetapi juga kesetiaan, kesabaran, dan tanggung jawab.
Siang itu, ketika bimbingan berakhir, harapan pun turut terpatri di hati setiap yang hadir: semoga M. Izzudin dan Dewi Prasetyowati kelak mampu menjaga janji mereka—menjadi pasangan yang setia dalam suka dan duka, saling menguatkan dalam setiap langkah, hingga waktu perlahan menutup perjalanan hidup mereka.
Sebab pada akhirnya, rumah tangga yang paling indah bukanlah yang bebas dari ujian, melainkan yang mampu bertahan dengan kesetiaan—hingga napas terakhir kehidupan.
