Setiap Manusia Berhak Mendapatkan Kesempatan Kedua
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Tidak semua kisah cinta dimulai dari halaman pertama. Ada hati yang pernah patah, ada perjalanan yang pernah berakhir, dan ada manusia yang pernah belajar tentang kehilangan sebelum akhirnya kembali menemukan keberanian untuk membuka pintu kehidupan baru. Bagi Rohmat dan Nuriyah, perjumpaan menuju pernikahan menjadi kesempatan untuk menata kembali harapan, bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan menerimanya secara ikhlas dan menjadikannya pelajaran. Jumat (07/08)
Pesan itulah yang menjadi bagian penting dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Dedy Purwanto, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada calon pengantin yang merupakan pasangan janda dan duda tersebut. Mengusung tema “Keikhlasan Menempuh Hidup Baru”, bimbingan diarahkan agar Rohmat dan Nuriyah memasuki kehidupan rumah tangga dengan hati yang lapang, pikiran yang matang, dan niat yang tulus.
Dedy Purwanto menyampaikan bahwa kehidupan baru tidak berarti seseorang harus menghapus seluruh kisah yang pernah dilalui. Masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak perlu disesali secara berlebihan. Pengalaman pahit dapat menjadi guru, kehilangan dapat menjadi pelajaran, dan kegagalan dapat menjadi jalan untuk mengenali arti kesetiaan serta tanggung jawab dengan lebih mendalam.
Dalam bimbingan tersebut, Rohmat dan Nuriyah diajak memahami bahwa keikhlasan bukan berarti melupakan, tetapi menerima dengan hati yang tenang. Ikhlas berarti mampu berdamai dengan apa yang telah berlalu, kemudian memandang masa depan tanpa terus-menerus dihantui bayang-bayang masa lalu.
“Memulai kehidupan baru membutuhkan keberanian untuk membuka hati. Jangan menjadikan masa lalu sebagai tembok yang menghalangi kebahagiaan hari ini. Jadikanlah pengalaman sebagai guru agar kehidupan yang baru dapat dijalani dengan lebih bijaksana,” pesan Dedy Purwanto dalam bimbingannya.
Bagi pasangan yang pernah mengalami kegagalan rumah tangga, perjalanan menuju pernikahan kembali tentu memiliki dinamika tersendiri. Ada pengalaman yang mungkin masih membekas, ada kekhawatiran yang sesekali muncul, dan ada rasa takut untuk kembali terluka. Karena itu, kesiapan batin menjadi bagian penting sebelum mengucapkan janji untuk menjalani kehidupan bersama.
Dedy Purwanto mengingatkan bahwa pernikahan bukan tempat untuk mencari manusia yang sempurna. Pernikahan adalah ruang bagi dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan untuk belajar saling memahami, menguatkan, memaafkan, dan memperbaiki diri.
Rohmat dan Nuriyah juga diajak untuk tidak membandingkan kehidupan baru dengan kehidupan yang telah berlalu. Setiap rumah tangga memiliki cerita sendiri. Tidak adil apabila pasangan baru harus terus-menerus berhadapan dengan bayang-bayang masa lalu. Kehidupan baru membutuhkan kesempatan untuk tumbuh dengan identitasnya sendiri, dengan cinta yang dibangun hari demi hari.
Sebab cinta yang baru tidak seharusnya dihukum karena luka yang lama. Orang yang datang hari ini tidak semestinya menanggung kesalahan orang yang telah pergi. Dan hati yang pernah terluka tetap berhak mendapatkan kesempatan untuk kembali bahagia.
Dalam Bimwin tersebut, Dedy Purwanto juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara calon pasangan. Rohmat dan Nuriyah perlu membangun kebiasaan berbicara dari hati ke hati, menyampaikan harapan dan kekhawatiran dengan jujur, serta belajar mendengarkan tanpa tergesa-gesa menghakimi.
Keikhlasan dalam menempuh hidup baru juga berarti kesiapan untuk menerima pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tidak hanya menerima saat bahagia, tetapi juga bersedia menjadi tempat bersandar ketika salah satu sedang lelah. Tidak hanya menggenggam ketika keadaan mudah, tetapi juga tetap berusaha bertahan ketika kehidupan menghadirkan ujian.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang bersedia saling menguatkan. Bukan tentang siapa yang tidak pernah salah, melainkan siapa yang mau meminta maaf dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Bimbingan Perkawinan tersebut menjadi ruang refleksi bagi Rohmat dan Nuriyah untuk mempersiapkan kehidupan rumah tangga secara lebih matang. Pernikahan dipahami bukan sekadar perubahan status, tetapi amanah yang menuntut kesiapan emosional, spiritual, dan sosial.
Dedy Purwanto juga mengajak keduanya menjadikan pernikahan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Ketika niat diluruskan, kehidupan rumah tangga diharapkan tidak hanya menjadi tempat berbagi kebahagiaan, tetapi juga menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan membangun kehidupan yang penuh keberkahan.
Sebagai Penyuluh Agama Islam, Dedy Purwanto berupaya menghadirkan Bimwin bukan sekadar sebagai kegiatan administratif sebelum pernikahan. Lebih dari itu, Bimwin menjadi ruang pembekalan agar calon pengantin memiliki bekal pengetahuan dan kesiapan mental untuk menjalani kehidupan setelah akad.
Sebab setelah ijab kabul selesai, tamu-tamu pulang dan suasana pernikahan mereda, kehidupan sesungguhnya baru dimulai. Di sanalah dua manusia akan belajar tentang kesabaran, pengorbanan, komunikasi, kesetiaan, dan keikhlasan dalam bentuknya yang paling nyata.
Untuk Rohmat dan Nuriyah, semoga kehidupan baru yang sedang dipersiapkan menjadi halaman yang lebih teduh. Biarlah masa lalu tetap menjadi guru, bukan penjara. Biarlah luka menjadi pelajaran, bukan alasan untuk menutup hati. Dan biarlah hari esok menjadi ruang untuk menulis kisah yang lebih baik bersama.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada Rohmat dan Nuriyah untuk menjalani kehidupan baru dengan hati yang lapang. Semoga pernikahan mereka kelak menjadi rumah yang dipenuhi ketenteraman, cinta, kasih sayang, dan keberkahan. Semoga segala pengalaman yang pernah dilalui menjadi bekal untuk membangun rumah tangga yang lebih dewasa, bijaksana, dan penuh keikhlasan.
Karena memulai kembali bukan berarti seseorang gagal dalam kehidupan. Terkadang, Allah hanya sedang mengajarkan bahwa setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk belajar mencintai dengan lebih dewasa. Dan mungkin, setelah sekian panjang perjalanan, rumah yang dicari bukan lagi sekadar tempat untuk pulang, melainkan seseorang yang berkata, “Mari kita jalani semuanya bersama—dengan sabar, dengan ikhlas, dan dengan nama Allah.”
