Setiap Warga Berhak Mendapatkan Pendampingan yang Layak dan Penuh Empati
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di era ketika teknologi semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, ketulusan hati tetap menjadi hal yang paling utama. Pemandangan itulah yang terasa hangat di Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang saat Ulul Albab, Penghulu KUA Jatilawang, bersama Paryanto, staf KUA Jatilawang, dengan sabar dan penuh keikhlasan membimbing Bapak Zaenur, warga Desa Tinggarjaya, dalam proses pendaftaran pernikahan secara online. Kamis (30/04)
Di ruang pelayanan yang sederhana namun penuh suasana kekeluargaan, langkah demi langkah dijelaskan dengan tenang. Mulai dari pengisian data, pemeriksaan dokumen, hingga proses unggah persyaratan dilakukan dengan pendampingan yang humanis dan penuh perhatian. Bagi sebagian orang, teknologi mungkin terasa mudah. Namun bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan sistem digital, proses tersebut sering kali menghadirkan kebingungan dan kecemasan tersendiri.
Dengan wajah teduh dan tutur kata yang lembut, Ulul Albab dan Paryanto memastikan bahwa setiap tahapan dapat dipahami dengan baik oleh Bapak Zaenur. Tidak ada nada tergesa, tidak pula sekadar menjalankan kewajiban administratif. Yang hadir justru ketulusan pelayanan—sebuah pengabdian yang lahir dari kesadaran bahwa setiap warga berhak mendapatkan pendampingan yang layak dan penuh empati.
“Pelayanan bukan hanya soal menyelesaikan administrasi, tetapi juga tentang membantu masyarakat merasa tenang dan terbantu,” ujar Ulul Albab di sela kegiatan pelayanan.
Bapak Zaenur tampak beberapa kali tersenyum lega setelah berbagai proses yang semula terasa rumit akhirnya dapat dipahami dan diselesaikan. Di balik layar komputer dan dokumen digital itu, sesungguhnya sedang tumbuh harapan tentang sebuah keluarga baru yang akan dibangun dengan doa dan cinta.
Kehadiran pelayanan berbasis digital di KUA menjadi bagian dari upaya modernisasi birokrasi yang memudahkan masyarakat. Namun di atas semua itu, sentuhan manusiawi tetap menjadi ruh utama pelayanan publik. Kesabaran dan kehangatan yang diberikan oleh aparatur KUA Jatilawang menjadi bukti bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan nilai ketulusan dalam melayani sesama.
Suasana haru terasa ketika proses pendaftaran berhasil diselesaikan. Tidak ada sorak-sorai besar, namun ada rasa syukur sederhana yang mengalir di wajah seorang warga desa yang merasa dimudahkan dalam mengurus langkah awal menuju pernikahan anak atau keluarganya.
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan digital, Ulul Albab dan Paryanto menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa pelayanan terbaik bukan hanya tentang kecanggihan sistem, melainkan tentang kesabaran mendengarkan, ketulusan membimbing, dan keikhlasan membantu masyarakat tanpa membeda-bedakan.
Dan di ruang pelayanan KUA Jatilawang itu, secercah harapan kembali tumbuh—bahwa negara masih hadir melalui tangan-tangan tulus yang bekerja diam-diam demi membantu masyarakat menjemput hari bahagia mereka.
