Siapkan Generasi Muda Jadi Pribadi Dewasa: Penyuluh Beri BRUS di SMAN 4 Purwokerto
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Masa remaja bukan sekadar masa untuk tumbuh menjadi dewasa, tetapi juga masa untuk belajar mengenal diri, memahami orang lain, dan menentukan arah kehidupan. Di usia ketika emosi terkadang berlari lebih cepat daripada pikiran, seorang remaja membutuhkan bekal agar mampu mengambil keputusan dengan bijaksana. Kesadaran itulah yang menjadi bagian penting dalam kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang dilaksanakan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, di SMAN 4 Purwokerto. Jumat (07/08)
Kegiatan BRUS tersebut menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membekali para pelajar dengan keterampilan kehidupan yang sangat dekat dengan keseharian mereka. Dalam suasana edukatif dan komunikatif, Muhammad Taubah mengajak para peserta memahami tiga kemampuan penting dalam membangun kedewasaan diri, yakni pengendalian emosi, keterampilan komunikasi, dan pengambilan keputusan.
Materi pertama yang menjadi perhatian adalah pengendalian emosi. Kepada para remaja, Muhammad Taubah memberikan pemahaman bahwa memiliki emosi bukanlah sebuah kesalahan. Marah, kecewa, sedih, takut, dan bahagia merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang membedakan pribadi yang matang dengan pribadi yang belum matang adalah kemampuan mengelola emosi agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Remaja diajak memahami bahwa tidak semua hal harus dibalas dengan kemarahan, tidak setiap kekecewaan harus berakhir dengan kebencian, dan tidak setiap persoalan harus diselesaikan ketika hati sedang terbakar emosi. Kadang-kadang, keputusan terbaik lahir bukan dari suara yang paling keras, tetapi dari hati yang mampu menenangkan diri sebelum berbicara.
Materi berikutnya adalah keterampilan komunikasi. Muhammad Taubah mengajak para peserta memahami pentingnya menyampaikan pikiran dan perasaan secara baik, santun, jujur, dan bertanggung jawab. Komunikasi yang sehat bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga tentang kesediaan mendengarkan, menghargai perbedaan, memahami perasaan orang lain, serta memilih kata-kata yang tidak melukai.
Di tengah kehidupan remaja yang semakin akrab dengan komunikasi digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Sebuah kalimat yang ditulis tanpa pertimbangan dapat melukai seseorang dalam hitungan detik. Sebaliknya, satu kalimat yang penuh empati dapat menjadi alasan seseorang bertahan ketika sedang menghadapi hari yang berat.
Kata-kata memang tidak memiliki tangan, tetapi mampu memeluk. Kata-kata tidak memiliki pisau, tetapi juga dapat melukai. Karena itu, belajar berkomunikasi sejatinya adalah belajar bertanggung jawab atas setiap kata yang keluar dari diri.
Materi ketiga adalah pengambilan keputusan. Para peserta diajak menyadari bahwa kehidupan remaja akan semakin banyak menghadirkan pilihan. Ada keputusan tentang pertemanan, pendidikan, penggunaan media sosial, pergaulan, masa depan, hingga berbagai persoalan yang dapat memengaruhi perjalanan hidup mereka.
Muhammad Taubah memberikan penguatan agar setiap keputusan tidak diambil hanya karena dorongan sesaat, tekanan teman sebaya, atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Setiap pilihan perlu dipertimbangkan dengan akal sehat, nilai agama, dampak terhadap diri sendiri dan orang lain, serta konsekuensi yang mungkin muncul di kemudian hari.
Sebab, masa depan sering kali tidak berubah karena satu keputusan besar saja. Ia dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang dibuat seseorang setiap hari. Pilihan untuk berkata jujur, memilih teman yang baik, mengendalikan amarah, menghormati orang tua, menjaga diri, dan berani mengatakan tidak kepada sesuatu yang salah merupakan investasi berharga bagi masa depan.
Melalui BRUS, Muhammad Taubah juga mengajak para pelajar untuk tidak memandang masa remaja sebagai fase yang harus dilalui begitu saja. Masa ini adalah kesempatan untuk membangun karakter, memperkuat kepercayaan diri, mengenali potensi, sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang dibuat.
Pesan tersebut terasa penting karena di balik seragam sekolah yang dikenakan para peserta, tersimpan beragam mimpi yang belum semuanya terucapkan. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, pengusaha, aparatur negara, ilmuwan, seniman, atau profesi lainnya. Ada pula yang mungkin belum mengetahui akan menjadi apa kelak. Namun, apa pun cita-cita mereka, semuanya membutuhkan satu hal yang sama: karakter yang kuat dan kemampuan mengambil keputusan dengan bijaksana.
Kegiatan BRUS di SMAN 4 Purwokerto menjadi bukti bahwa pembinaan generasi muda tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi akademik. Anak-anak muda juga perlu dibekali kemampuan mengelola perasaan, membangun hubungan yang sehat, berkomunikasi secara santun, dan menentukan pilihan secara bertanggung jawab.
Bagi Muhammad Taubah, menjadi Penyuluh Agama bukan hanya tentang menyampaikan pesan-pesan keagamaan di hadapan masyarakat. Lebih jauh, tugas tersebut merupakan ikhtiar untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan sedini mungkin agar generasi muda memiliki kompas moral ketika suatu hari harus berjalan sendiri menghadapi kehidupan.
Sebab, suatu saat nanti, para pelajar yang hari ini duduk mendengarkan bimbingan akan meninggalkan bangku sekolah. Mereka akan memasuki dunia yang lebih luas, bertemu lebih banyak manusia, menghadapi lebih banyak pilihan, dan mungkin mengalami kegagalan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Ketika hari itu tiba, semoga yang mereka ingat bukan hanya materi yang pernah disampaikan, tetapi juga satu pesan sederhana: jangan biarkan emosi mengalahkan akal, jangan biarkan kata-kata kehilangan adab, dan jangan mengambil keputusan tanpa memikirkan akibatnya.
Pada akhirnya, BRUS bukan sekadar kegiatan pembinaan remaja. Ia adalah ikhtiar kecil untuk menyiapkan manusia-manusia muda agar kelak mampu menjadi pribadi yang dewasa, tangguh, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Dan mungkin, dari sebuah ruang kelas di SMAN 4 Purwokerto, hari itu sedang tumbuh sesuatu yang tidak langsung terlihat: kesadaran seorang remaja untuk belajar mengendalikan dirinya, menjaga lisannya, dan memilih jalan hidupnya dengan lebih bijaksana.
Karena pendidikan yang paling berharga bukan hanya yang membuat seseorang pandai menjawab soal, tetapi juga yang mengajarinya bagaimana tetap menjadi manusia ketika hidup memberinya alasan untuk marah, kecewa, tergesa-gesa, dan salah memilih.
