Suara Bening Penghafal Al-Quran Cilik Getarkan Arena FASI Kecamatan Jatilawang
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di antara lantunan ayat-ayat suci yang mengalun lembut, suasana Seleksi Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Tingkat Kecamatan Jatilawang berubah menjadi lautan keteduhan. Satu demi satu santri kecil melangkah dengan penuh keyakinan, melafalkan hafalan Al-Qur'an yang telah mereka rajut melalui doa, air mata, dan ketekunan. Setiap ayat yang keluar dari lisan mereka seakan menjadi cahaya yang menerangi ruangan sekaligus menyentuh relung hati setiap orang yang mendengarnya. Senin (29/06)
Dalam momentum yang sarat nilai spiritual tersebut, Ustadzah Dwi Astuti, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, dipercaya mengemban amanah sebagai Tim Penilai Cabang Lomba Tahfidzul Qur'an. Amanah itu dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan ketelitian, sebagai wujud pengabdian dalam membina generasi pecinta Al-Qur'an.
Sebagai dewan juri, Ustadzah Dwi Astuti melakukan penilaian secara objektif terhadap kemampuan peserta, meliputi kelancaran hafalan, ketepatan makharijul huruf, penerapan hukum tajwid, kefasihan bacaan, serta adab ketika melantunkan ayat-ayat suci. Setiap nilai diberikan dengan penuh kehati-hatian, karena di balik setiap hafalan terdapat perjuangan panjang yang dijalani anak-anak bersama guru dan keluarga mereka.
Suasana perlombaan dipenuhi keheningan yang begitu khusyuk. Ketika para peserta mulai melafalkan ayat demi ayat, tidak sedikit hadirin yang larut dalam rasa haru. Suara-suara bening dari anak-anak itu menjadi pengingat bahwa Al-Qur'an akan senantiasa hidup sepanjang zaman selama ada generasi yang mencintai, menghafal, memahami, dan mengamalkannya.
Bagi Ustadzah Dwi Astuti, cabang Tahfidzul Qur'an bukan sekadar perlombaan untuk menentukan siapa yang memiliki hafalan terbanyak atau bacaan terbaik. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan proses menanamkan kecintaan kepada Kalamullah sejak usia dini, membentuk pribadi yang berakhlakul karimah, serta menyiapkan generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Festival Anak Sholeh Indonesia menjadi wadah yang sangat berharga dalam melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam iman dan akhlak. Melalui ajang ini, anak-anak belajar bahwa menghafal Al-Qur'an bukan sekadar mengingat rangkaian ayat, melainkan menghadirkan firman Allah dalam hati, pikiran, dan perilaku sehari-hari.
Kepercayaan yang diberikan kepada Ustadzah Dwi Astuti sebagai Tim Penilai mencerminkan komitmen KUA Jatilawang untuk terus berperan aktif dalam pembinaan umat, khususnya dalam membangun kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur'an. Sebagai penyuluh agama, beliau tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar besar menjaga warisan suci yang akan terus mengalir dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di balik setiap ayat yang berhasil dihafalkan, terdapat doa-doa orang tua yang dipanjatkan di sepertiga malam, kesabaran para ustaz dan ustazah yang tak pernah lelah membimbing, serta perjuangan anak-anak yang memilih mengulang hafalan ketika teman-teman seusianya sedang bermain. Semua itu adalah investasi akhirat yang nilainya tidak dapat diukur oleh angka maupun piala.
Semoga dedikasi Ustadzah Dwi Astuti dalam mengemban amanah sebagai Tim Penilai Cabang Tahfidzul Qur'an menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk terus memuliakan Al-Qur'an melalui pendidikan dan pembinaan sejak usia dini. Sebab dari bibir-bibir mungil yang hari ini melantunkan firman Allah, semoga kelak lahir para penjaga Al-Qur'an yang akan menerangi kehidupan umat dengan ilmu, akhlak, dan kasih sayang. Ketika anak-anak mencintai Al-Qur'an, sesungguhnya masa depan bangsa sedang ditulis dengan tinta cahaya yang tak akan pernah pudar.
