Sukseskan Gerakan Nasional, KUA Purwokerto Selatan Gelar Sosialisasi dan Praktik Rashdul Qiblat di Kelurahan Tanjung
Oleh HUMAS
Purwokerto – Dalam rangka menyukseskan gerakan nasional "Indonesia Berkiblat: 1.448.000 Rashdul Qiblat", Kantor Urusan Agama (KUA) Purwokerto Selatan bergerak cepat melakukan edukasi ke masyarakat. Melalui Penyuluh Agama Islam, Nashicha, KUA Purwokerto Selatan bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Tanjung menggelar kegiatan Sosialisasi Rashdul Qiblat sebagai Metode Ilmiah dan Praktis Verifikasi Arah Kiblat. Senin (13/07)
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.30 WIB di Balai Kelurahan Tanjung ini menghadirkan Hariyanto, Penyuluh Agama Islam KUA Baturraden sekaligus Tim Satria Falak Community Kabupaten Banyumas sebagai narasumber utama.
Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Kelurahan Tanjung Iwan Suteja, S.E., Satpol PP Kelurahan Tanjung Dian Saiful Bahri, Ketua LP2A Kelurahan Tanjung, Sujiman, para takmir masjid/musala, kayim se-Kelurahan Tanjung, serta mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Dalam sambutannya, Kepala Kelurahan Tanjung, Iwan Suteja, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif yang digagas oleh KUA melalui Nashicha. "Kegiatan ini sangat penting sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya pengurus masjid dan musala, agar memahami cara menentukan arah kiblat secara ilmiah. Kami berharap kegiatan serupa bisa terus berkelanjutan agar pemahaman masyarakat semakin baik dan seragam," ujar Iwan.
Penyuluh Agama Islam KUA Purwokerto Selatan, Nashicha, (Mbak Icha), menjelaskan bahwa sosialisasi ini merujuk pada surat pemberitahuan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Gerakan Indonesia Berkiblat ini merupakan bagian dari program Peaceful Muharram 1448 Hijriah yang diinisiasi oleh Ditjen Bimas Islam Kemenag RI.
Gerakan serentak ini akan dilaksanakan pada Rabu dan Kamis, 15–16 Juli 2026 pukul 16.27 WIB. Seluruh penghulu, penyuluh, dan takmir di Indonesia diajak aktif memverifikasi arah kiblat memanfaatkan fenomena astronomi ini. Mbak Icha juga berharap para peserta yang hadir dapat menjadi agen informasi bagi lingkungan sekitarnya.
Memasuki sesi materi, Hariyanto, S.H. memaparkan pentingnya Ilmu Falak dalam ibadah umat Islam, mulai dari penentuan waktu salat, awal bulan Hijriah, hingga verifikasi arah kiblat. Menurutnya, ketepatan arah kiblat adalah syarat penting dalam salat, dan perkembangan teknologi saat ini memudahkan masyarakat untuk memverifikasinya secara ilmiah guna menghindari penyimpangan arah bangunan ibadah.
Hariyanto menjelaskan bahwa Rashdul Qiblat adalah fenomena astronomi ketika posisi Matahari tepat berada di atas Ka'bah di Makkah. Fenomena ini terjadi dua kali setahun (akhir Mei dan pertengahan Juli). Pada momen ini, bayangan benda yang berdiri tegak akan searah dengan garis arah kiblat, menjadikannya metode paling sederhana namun memiliki akurasi yang sangat tinggi.
Tata cara pelaksanaan Rashdul Qiblat yang dipaparkan meliputi:
-
Menyiapkan tongkat/benda lurus yang dipasang tegak lurus (90°) pada permukaan datar.
-
Memastikan lokasi terkena sinar matahari langsung.
-
Melakukan pengamatan tepat pada pukul 16.27 WIB.
-
Mengamati bayangan dan menarik garis dari pangkal tongkat ke ujung bayangan. Garis yang mengarah ke arah Matahari itulah arah kiblat yang presisi.
Tidak hanya teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di halaman Balai Kelurahan Tanjung. Menggunakan alat sederhana seperti tongkat tegak, benang, dan alat ukur lainnya, para takmir masjid tampak sangat antusias mencoba teknik pengukuran dan berdialog interaktif dengan narasumber.
Melalui praktik langsung ini, para peserta kini siap melakukan verifikasi secara mandiri pada hari pelaksanaan gerakan nasional tanggal 15–16 Juli nanti. Acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen bersama menyukseskan gerakan Indonesia Berkiblat demi mewujudkan ibadah yang sesuai syariat dan berbasis ilmu pengetahuan.
