Syukur yang Tulus di Masjid Al Mujahidin
Banyumas — Suasana malam Ramadhan yang penuh keberkahan kembali menyelimuti Kecamatan Jatilawang. Pada malam ke-20 bulan suci Ramadhan, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa yang khusyuk menggema di Masjid Al Mujahidin. Di tengah keheningan malam yang sarat makna itu, kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) menjadi momentum spiritual yang menyentuh hati para jamaah. Selasa (10/03)
Kegiatan Tarling tersebut diisi oleh Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, Muhammad Taubah, yang menyampaikan tausiyah bertema “Syukur yang Tulus kepada Allah SWT.” Dengan tutur kata yang lembut dan penuh hikmah, ia mengajak jamaah untuk merenungi nikmat-nikmat Allah yang sering kali luput dari kesadaran manusia.
Dalam ceramahnya, Muhammad Taubah menegaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan yang terucap di bibir, melainkan sikap hidup yang lahir dari kedalaman hati. Ia menjelaskan bahwa manusia sering kali hanya mengingat Allah ketika dilanda kesulitan, namun lupa bersujud dalam syukur ketika limpahan nikmat datang tanpa henti.
“Syukur yang sejati adalah ketika hati tunduk sepenuhnya kepada Allah, lidah memuji-Nya, dan seluruh anggota tubuh menggunakan nikmat yang diberikan untuk kebaikan,” ujarnya dengan suara yang tenang namun sarat makna.
Di hadapan jamaah yang memenuhi saf-saf masjid, ia mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan madrasah ruhani bagi setiap muslim untuk belajar mensyukuri setiap detik kehidupan. Nafas yang masih diberikan, kesehatan yang masih dirasakan, keluarga yang masih berkumpul, hingga kesempatan untuk bersujud dalam ibadah—semuanya adalah karunia yang tak ternilai.
Suasana masjid terasa semakin khidmat ketika ia menggambarkan bahwa manusia sering kali baru memahami arti nikmat setelah nikmat itu diambil kembali oleh Sang Pencipta. Beberapa jamaah tampak menundukkan kepala, merenungi setiap kalimat yang disampaikan.
“Betapa banyak nikmat yang kita miliki hari ini, tetapi kita lalai mensyukurinya. Padahal Allah telah berjanji dalam firman-Nya bahwa siapa yang bersyukur, niscaya akan ditambah nikmatnya,” ungkapnya, mengingatkan jamaah akan janji ilahi yang penuh rahmat.
Tarling malam ke-20 ini tidak sekadar menjadi agenda ibadah rutin, melainkan juga ruang refleksi spiritual bagi masyarakat. Di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan duniawi, pengajian tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada hati yang pandai bersyukur.
Seusai rangkaian shalat tarawih dan tausiyah, jamaah tampak masih bertahan di dalam masjid. Sebagian berbincang pelan, sebagian lainnya berdoa dengan mata yang berkaca-kaca. Malam itu, Masjid Al Mujahidin bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang bagi hati-hati yang ingin kembali mendekat kepada Allah.
Kegiatan Tarling yang dilaksanakan oleh KUA Jatilawang ini diharapkan mampu terus memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat serta menumbuhkan kesadaran spiritual untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri.
Di penghujung ceramahnya, Muhammad Taubah mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan syukur sebagai jalan hidup.
“Jika hati kita dipenuhi syukur, maka kehidupan yang sederhana pun terasa cukup. Namun jika hati kita dipenuhi keluh kesah, maka nikmat sebesar apa pun akan terasa kurang,” tuturnya.
Malam Ramadhan itu pun berakhir dengan doa yang lirih namun penuh harap—doa agar hati manusia senantiasa dipenuhi rasa syukur, dan agar setiap nikmat yang diberikan Allah SWT mampu mengantarkan manusia menjadi hamba yang semakin dekat kepada-Nya.
