Terik Ramadan Tak Surutkan Semangat GTK MTs Negeri 3 Banyumas Hadiri Kajian Bakda Dhuhur

Oleh MTSN3 Banyumas
SHARE

Banyumas - Bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H, suasana siang yang cukup terik di lingkungan madrasah tidak menyurutkan langkah para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk tetap istiqamah menghadiri kajian ba’da Dhuhur. Selepas menunaikan shalat Dhuhur berjamaah, para pencari ilmu dengan penuh khidmat memenuhi majelis, menghadirkan hati dan pikiran dalam suasana yang teduh oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Pertengahan bulan Ramadhan ini justru menjadi momentum untuk semakin menguatkan semangat ibadah dan menuntut ilmu. Selasa (03/03)

Kajian yang disampaikan oleh Kyai Kursin Efendi al-Ghazali mengangkat tema tentang syarat-syarat pencari ilmu sebagaimana dinukil dalam Durratun Nasihin. Beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang memerlukan niat tulus semata-mata karena Allah SWT. Ilmu tidak akan membawa keberkahan jika diniatkan untuk kesombongan atau kepentingan duniawi semata, melainkan harus dilandasi keikhlasan dan kesungguhan.

Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki sifat tawadhu’, menghormati guru, serta bersabar dalam proses belajar. Kesungguhan dan ketekunan menjadi syarat penting, karena ilmu tidak datang secara instan. Adab menjadi mahkota bagi pencari ilmu; tanpa adab, ilmu akan kehilangan cahaya dan nilainya. Oleh sebab itu, menjaga sikap, memperhatikan nasihat guru, serta mengamalkan ilmu yang diperoleh menjadi bagian dari tanggung jawab moral seorang penuntut ilmu.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa keberkahan ilmu sangat dipengaruhi oleh hubungan yang baik antara murid dan guru. Menghadiri majelis dengan penuh hormat, mencatat dengan sungguh-sungguh, serta mendoakan guru termasuk adab yang membuka pintu kemudahan dalam memahami ilmu. Ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya dalam kehidupan pribadi maupun dalam tugas mendidik generasi.

Semangat GTK dalam mengikuti kajian ini menjadi potret nyata implementasi nilai-nilai tersebut. Meski di bawah terik matahari Ramadhan, mereka tetap berlomba-lomba dalam kebaikan, menghadiri majelis ilmu dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an. Ramadhan benar-benar dijadikan sebagai madrasah ruhani untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan.

Kajian ba’da Dhuhur pada Selasa siang itu bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi oase penyejuk jiwa di tengah aktivitas yang padat. Semangat menuntut ilmu yang terus menyala di bulan suci ini diharapkan mampu menghadirkan keberkahan, memperkokoh komitmen sebagai pendidik, serta menumbuhkan generasi yang berilmu, beradab, dan senantiasa haus akan cahaya kebenaran.(HumasMTsN3).