Tetap Genggam Tangan Ketika Keadaan Sedang Tidak Mudah

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang untuk dicintai, tetapi juga tentang belajar menjadi seseorang yang membuat pasangannya merasa aman dan nyaman. Sebab, rumah tangga yang hangat tidak selalu dibangun oleh kata-kata cinta yang indah, melainkan oleh perhatian kecil, kesediaan mendengarkan, dan ketulusan untuk tetap hadir ketika kehidupan tidak selalu berjalan mudah. Jumat (07/08)

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Rais Rudiansyah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, kepada calon pengantin Anom Suroto dan Desty Yuliana. Dalam bimbingan tersebut, keduanya mendapatkan pembekalan mengenai “Membuat Pasangan Menjadi Nyaman” sebagai salah satu bekal penting untuk membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh kasih sayang.

Rais Rudiansyah menyampaikan bahwa kenyamanan dalam rumah tangga tidak hadir dengan sendirinya. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten: berbicara dengan lembut, menghargai pasangan, mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga kepercayaan, dan memberikan ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.

Menurutnya, seseorang dapat saja memiliki rumah yang besar, perabotan yang lengkap, dan kehidupan yang berkecukupan. Namun, apabila hati pasangan merasa kesepian di dalamnya, rumah tersebut belum tentu menjadi tempat pulang yang sesungguhnya.

Rumah yang nyaman bukan hanya rumah yang memiliki pintu untuk dimasuki, tetapi rumah yang memiliki hati untuk menerima.

Dalam bimbingan tersebut, Anom dan Desty diajak memahami bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan untuk didengar dan dihargai. Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban yang panjang. Terkadang, pasangan hanya membutuhkan seseorang yang mau duduk di sampingnya, mendengarkan keluh kesahnya, dan mengatakan, “Aku mengerti. Kamu tidak sendirian.”

Rais Rudiansyah menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dalam kehidupan rumah tangga. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar karena suami dan istri tumbuh dari latar belakang, pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir yang mungkin berbeda. Yang harus dijaga bukan agar perbedaan itu tidak pernah ada, tetapi bagaimana perbedaan diselesaikan tanpa merendahkan dan melukai.

Kata-kata pun menjadi perhatian penting dalam membangun kenyamanan pasangan. Dalam kondisi marah, seseorang terkadang mudah mengucapkan kalimat yang kemudian disesali. Karena itu, calon pengantin diajak belajar mengendalikan emosi, memilih waktu yang tepat untuk berbicara, serta menghindari ucapan yang dapat meninggalkan luka panjang.

Luka dari benda mungkin dapat sembuh dalam hitungan hari, tetapi luka dari kata-kata terkadang tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan. Karena itu, pasangan hendaknya menjadi tempat paling aman untuk berbicara, bukan tempat paling menakutkan untuk mengungkapkan perasaan.

Selain komunikasi, kenyamanan juga dibangun melalui penghargaan terhadap pasangan. Anom dan Desty diarahkan untuk tidak menganggap perhatian kecil sebagai sesuatu yang sepele. Ucapan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, menanyakan keadaan pasangan, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar menyediakan waktu untuk berbincang dapat menjadi bahasa cinta yang jauh lebih bermakna daripada hadiah mahal.

Rais Rudiansyah juga mengingatkan bahwa pernikahan bukanlah perjalanan untuk mencari siapa yang paling benar. Rumah tangga adalah perjalanan dua manusia untuk belajar menjadi lebih dewasa. Ketika salah satu lelah, yang lain menguatkan. Ketika salah satu jatuh, yang lain membantu berdiri. Ketika keduanya menghadapi masalah, mereka belajar menyelesaikannya bersama, bukan saling mencari siapa yang harus disalahkan.

Karena pasangan hidup bukan lawan yang harus dikalahkan dalam perdebatan. Ia adalah teman seperjalanan yang harus dijaga agar tetap kuat berjalan bersama.

Bimwin tersebut juga menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran bahwa kenyamanan tidak berarti selalu menuruti semua keinginan pasangan. Kenyamanan justru lahir dari hubungan yang sehat, ketika masing-masing mampu menyampaikan batasan, kebutuhan, harapan, dan perasaan dengan jujur serta tetap menghormati satu sama lain.

Dalam perspektif keagamaan, membahagiakan dan memberikan ketenteraman kepada pasangan juga merupakan bagian dari akhlak mulia. Pernikahan bukan sekadar hubungan antara dua manusia, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Sebagai Penyuluh Agama Islam, Rais Rudiansyah berupaya menjadikan Bimbingan Perkawinan sebagai ruang persiapan yang lebih bermakna bagi calon pengantin. Bimwin tidak hanya dipahami sebagai tahapan menuju akad, tetapi sebagai proses membekali pasangan agar memiliki pengetahuan, kesiapan mental, serta kesadaran untuk merawat rumah tangga setelah janji suci diucapkan.

Sebab setelah akad selesai, para tamu pulang dan kebahagiaan pesta perlahan menjadi kenangan, kehidupan rumah tangga akan menghadirkan hari-hari biasa. Di sanalah cinta diuji bukan melalui kata-kata besar, tetapi melalui hal-hal kecil: siapa yang tetap menemani ketika sakit, siapa yang bersedia mendengarkan ketika lelah, siapa yang mau meminta maaf ketika salah, dan siapa yang tetap menggenggam tangan ketika keadaan sedang tidak mudah.

Untuk Anom Suroto dan Desty Yuliana, semoga pembekalan tersebut menjadi bekal untuk membangun rumah yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menenteramkan ketika dihuni. Rumah yang membuat keduanya merasa diterima, dihargai, didengar, dan dicintai.

Semoga Allah SWT membimbing Anom dan Desty dalam menapaki kehidupan rumah tangga. Semoga keduanya mampu menjadi pasangan yang saling menenangkan, saling menguatkan, saling menjaga kehormatan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga kelak rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan dipenuhi keberkahan.

Sebab pada akhirnya, pasangan yang paling berharga bukanlah mereka yang selalu membuat hidup terasa sempurna, melainkan mereka yang membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri. Tempat kita boleh lelah tanpa takut dihakimi, boleh menangis tanpa merasa malu, boleh salah tanpa kehilangan kasih sayang, dan boleh pulang tanpa harus membawa topeng apa pun.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk cinta yang paling dalam: bukan hanya berkata, “Aku mencintaimu,” tetapi setiap hari berusaha membuat orang yang dicintai merasa, “Aku aman bersamamu.”