Tim Pengembang Kurikulum MAN 3 Banyumas Persiapkan Review KTSP

Oleh MAN 3 Banyumas
SHARE

Banyumas—Tim Pengembang Kurikulum MAN 3 Banyumas mempersiapkan review KTSP dalam rapat terbatas yang dihadiri 9 personel tim pengembang kurikulum. Tim pengembang beranggotakan unsur kepala madrasah, kepala tata usaha, semua wakil kepala madrasah, sekretaris kurikulum, dan seorang perwakilan guru. Kegiatan persiapan review KTSP tersebut dilaksanakan Kamis (21/7) di ruang rapat kepala madrasah. Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.15 dengan melafalkan Surat Al-Fatihah.

Kepala madrasah, Drs. Suratno, M.Pd.I., dalam arahannya menyampaikan pentingnya review KTSP untuk mengetahui sejauh mana relevansi KTSP madrasah dengan kondisi madrasah saat ini. “Kondisi semakin ke sini tentunya ada perubahan sehingga KTSP pun harus disesuaikan denngan kondisi terkini. Kegiatan-kegiatan harus dikembangkan untuk mendukung ketercapaian tujuan. Pengembangan kegiatan disesuaikan juga dengan program-program madrasah, terutama program unggulan,” jelasnya. Lebih lanjut Suratno menyampaikan kebijakan Kementerian Agama terkait kurikulum yang bisa diberlakukan di madrasah. “Saat ini Kemenag menyampaikan tiga macam penerapan kurikulum di madrasah. Yang pertama adalah IKM Murni. Madrasah yang menerapkan IKM Murni telah ditetapkan pemerintah sebagai pilot project IKM melalui surat keputusan resmi. Kedua, Kurtilas Rasa Merdeka. Model ini menggunakan Kurtilas dengan penerapan IKM pada beberapa bagian, misalnya penerapan projek. Yang ketiga adalah KTSP Reguler seperti yang dilaksanakan hamper semua madrasah saat ini. Kita mau menerapkan yang mana? Apakah tetap seperti dulu ataukan mau ada inovasi? Yang harus diperhatikan adalah saat kita menetapkan dasar hukum isi KTSP karena hal itu akan berpengaruh terhadap isi KTSP yang akan kita gunakan. Kita akan lebih focus pada pembahasan bab II dan III terutama tentang visi, misi, dan tujuan. Apakah visi, misi, dan tujuan madrasah kita akan berubah atau tidak?” Pada penghujung arahan, Suratno mengajak, “Mari kita persiapkan review dengan enak saja. Santai tapi sampai. Jika memang mau ada perubahan tidak menjadi soal karena guru adalah agen perubahan,” pungkasnya.

Waka Kurikulum, Khasan Rosyidi, S.Pd. menyampaikan rancangan kurikulum yang akan diberlakukan pada tahun pelajaran 2022/2023. Rancangan yang disampaikan mayoritas merupakan kurikulum yang telah diberlakukan pada tahun pelajaran 2021/2022. Kemudian Khasan menawarkan pada tim pengembang jika mau ada perubahan. Tim pengembang menganalisis beberapa bagian kemudian fokus perhatian dan pembahasan pada visi, misi dan tujuan madrasah. Suratno menyampaikan ide perubahan visi madrasah yang nantinya tentu saja berdampak pada perubahan misi dan tujuan. Usulan perubahan visi tersebut adalah Terwujudnya peserta didik yang MATANG USIA. MATANG USIA merupakan akronim dari Mandiri, Tangguh, Unggul, Sinergi, dan Akhlakul Karimah. Usulan perubahan tersebut disetujui tim pengembang kurikulum sehingga pembahasan dilanjutkan dengan merancang misi dan tujuan madrasah sesuai dengan visi tersebut. Melalui pembahasan yang menarik dan saling mengisi, akhirnya tim mampu merancang misi, indicator, dan tujuan sesuai usulan visi dari Suratno tersebut. Rancangan perubahan tersebut akan disampaikan pada tim pengembang madrasah.

Saat dibuka sesi informasi dan masukan-masukan, Adis, S.Ag. mengingatkan pentingnya pengakuan hukum atas perubahan visi, misi, dan tujuan madrasah. “Jika visi madrasah berubah, jangan lupa untuk menerbitkan SK,” ungkap Adis. Suratno langsung merespon masukan dari Adis, “Iya, betul sekali. Nanti kita menyampaikan rancangan perubahan ini kepada tim pengembang madrasah, yang di dalamnya juga ada komite madrasah dan pakar Pendidikan. Kalau sudah deal, tentu nanti akan diterbitkan SK dan dilanjutkan dengan sosialisasi visi, misi, dan tujuan madrasah yang baru,” terang Suratno. Ahmad Ridlo, S.S., M.Pd.I. juga menyampaikan masukan, “Saya ingin agar kegiatan yang dulu sudah dilaksanakan sebelum masa pandemi, kembali dilaksanakan. Kita perlu kembali mengadakan Jumat Sehat, Jumat Bersih, dan Khithobah siswa.” Masukan tersebut segera direspon Suratno dengan persetujuan, “Saya setuju sekali. Namun, pelaksanaannya jangan Jumat, tapi kita alihkan Sabtu saja karena Jumat merupakan hari pendek. Nanti kita istilahkan dengan Sabtu Krida,” pungkasnya. Kegiatan yang berlangsung santai tapi sampai akhirnya mampu menghasilkan rancangan KTSP dalam waktu relatif singkat.

(Tim Media MAN 3 Banyumas)