Tubuh Sedang Lemah, Tetapi Hati Jangan Ikut Menyerah
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Ada saat ketika tubuh meminta seseorang berhenti sejenak. Langkah yang biasanya ringan menjadi berat, tenaga yang biasanya penuh perlahan melemah, dan ranjang perawatan menjadi tempat untuk menanti kesembuhan. Di tengah suasana itulah Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang hadir mendampingi Surti, pasien yang sedang mengalami tekanan darah tinggi dan menjalani rawat inap di Puskesmas Kecamatan Jatilawang. Jumat (07/08)
Kehadiran Penyuluh Agama Islam tidak sekadar menjadi kunjungan biasa, tetapi merupakan bentuk kepedulian sekaligus pendampingan spiritual kepada masyarakat yang sedang menghadapi ujian kesehatan. Dengan tutur kata yang lembut dan penuh empati, Penyuluh Agama menyapa Surti, memberikan motivasi, dan menguatkan hatinya agar tetap sabar, tenang, serta optimistis menjalani proses perawatan.
Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam memberikan bimbingan tata cara tayamum bagi orang sakit yang memiliki keterbatasan dalam menggunakan air. Penjelasan disampaikan secara perlahan dan mudah dipahami, dengan memperhatikan kondisi Surti yang sedang menjalani perawatan. Bimbingan itu menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik tidak semestinya memutus hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Selanjutnya, Penyuluh Agama mengajarkan tata cara shalat bagi orang yang sedang sakit, baik dengan duduk maupun berbaring sesuai kemampuan. Ketika kondisi tubuh belum memungkinkan untuk berdiri, shalat dapat dilakukan dengan duduk. Apabila duduk pun tidak mampu dilakukan, seorang muslim dapat melaksanakan shalat dengan berbaring sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.
Bimbingan tersebut menyampaikan sebuah pesan yang begitu menenteramkan: Allah SWT mengetahui batas kemampuan setiap hamba. Ketika sehat, seseorang beribadah dengan kemampuan yang dimilikinya. Ketika sakit membuat tubuh kehilangan kekuatan, Allah memberikan kemudahan agar ibadah tetap dapat dilaksanakan tanpa memberatkan.
Di sela-sela bimbingan, Penyuluh Agama juga memberikan motivasi dan penguatan spiritual kepada Ibu Surti. Ia diajak untuk tetap tenang, sabar, dan tidak larut dalam kekhawatiran. Ikhtiar melalui pengobatan tetap dilakukan, sementara hati terus disandarkan kepada Allah SWT melalui doa dan tawakal.
“Ibu jangan terlalu takut. Jalani pengobatan dengan tenang dan tetap berdoa. Tubuh mungkin sedang lemah, tetapi hati jangan ikut menyerah. Insyaallah, setiap ujian memiliki jalan keluar dan setiap sakit memiliki kesempatan untuk sembuh.” Pesan tersebut menjadi penguat bagi Surti dalam menjalani masa perawatan.
Setelah memberikan bimbingan dan motivasi, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang juga mendoakan kesembuhan Surti. Doa dipanjatkan agar Allah SWT menormalkan kembali kondisi kesehatannya, mengangkat penyakitnya, memberikan kekuatan lahir dan batin, memudahkan proses pengobatan, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang mendampingi.
Bagi seseorang yang sedang terbaring di ruang perawatan, sebuah perhatian sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sapaan dapat mengusir kesepian. Nasihat dapat menumbuhkan keberanian. Dan doa yang terucap dengan tulus dapat menjadi pelita bagi hati yang sedang menunggu kesembuhan.
Di ruang rawat inap itu, dakwah hadir tanpa panggung dan tanpa pengeras suara. Ia hadir dalam bentuk seorang Penyuluh Agama yang datang mendekat, memberikan ilmu, menguatkan hati, lalu menengadahkan tangan untuk memohonkan kesembuhan.
Dakwah ternyata tidak selalu harus disampaikan dengan suara yang keras. Terkadang ia justru paling indah ketika hadir dalam keheningan: menemani orang sakit, mengajarinya cara tetap beribadah, menguatkan hatinya, kemudian berkata, “Allah bersama Ibu.”
