Asah Nalar Guru, MTsN 3 Banyumas Gelar Workshop Penulisan Soal HOTS
Oleh MTSN3 Banyumas
Banyumas — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan asesmen terus dilakukan MTs Negeri 3 Banyumas. Madrasah menggelar Workshop Penulisan Soal HOTS: Strategi Menyusun Evaluasi Pembelajaran Berkualitas, Kontekstual, Realistis, dan Berdaya Nalar Tinggi. Senin (10/08)
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari tindak lanjut supervisi pembelajaran yang telah dilaksanakan sekaligus sebagai langkah persiapan menghadapi Asesmen Sumatif Semester Gasal. Melalui workshop ini, guru tidak hanya diarahkan untuk mampu menyusun soal, tetapi juga memahami bagaimana menghadirkan instrumen evaluasi yang mampu mengukur kemampuan berpikir peserta didik secara lebih mendalam.
Workshop menghadirkan Kepala SMP Negeri 1 Pekuncen, Agistina Kartini, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, beliau mengajak para guru untuk melihat soal bukan sekadar sebagai alat untuk mendapatkan nilai, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dapat mengasah kemampuan berpikir, menganalisis, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
Materi diawali dengan pembahasan mengenai tujuan penulisan soal HOTS, kemudian dilanjutkan dengan mengenali perbedaan antara LOTS (Lower Order Thinking Skills) dan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Para guru diajak memahami bahwa soal HOTS bukan semata-mata soal yang sulit, melainkan soal yang mendorong peserta didik menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam menghadapi suatu persoalan.
Pembahasan kemudian mengarah pada rambu-rambu penyusunan soal HOTS, mulai dari karakteristik stimulus, tuntutan kemampuan berpikir, kesesuaian dengan kompetensi yang diukur, hingga konteks soal yang realistis dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Tidak berhenti pada teori, narasumber juga memaparkan langkah-langkah penyusunan soal HOTS serta memberikan sejumlah contoh soal untuk dianalisis bersama. Para GTK kemudian diajak melihat secara langsung apakah sebuah soal telah memenuhi karakteristik HOTS atau masih berada pada level kemampuan berpikir tingkat rendah.
Antusiasme GTK terlihat sepanjang kegiatan. Sejumlah guru bahkan berkesempatan menampilkan dan mempresentasikan contoh soal yang telah mereka susun, di antaranya Riyantom, Rochayatun, dan Siti Fatimah. Contoh soal yang ditampilkan menjadi bahan diskusi bersama, sehingga peserta lainnya dapat memberikan tanggapan sekaligus belajar dari pengalaman rekan sejawat.
Suasana diskusi semakin hidup ketika Maizun Lukman aktif mengajukan pertanyaan terkait asesmen HOTS, tujuan, serta fungsi penerapannya dalam pembelajaran. Pertanyaan tersebut membuka ruang diskusi lebih luas mengenai bagaimana asesmen seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, tetapi juga menjadi bagian dari proses untuk melihat kemampuan bernalar dan perkembangan kompetensi mereka.
Interaksi tersebut menunjukkan bahwa workshop berlangsung secara partisipatif dan dua arah. GTK tidak hanya menjadi peserta yang menerima materi, tetapi turut terlibat dalam proses menganalisis, bertanya, memberikan contoh, dan mempraktikkan penyusunan soal.
Bagian yang tidak kalah penting adalah praktik penyusunan soal HOTS. Para guru diberikan kesempatan untuk mencoba merancang soal berdasarkan materi pembelajaran masing-masing. Melalui praktik ini, peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mulai menghasilkan instrumen evaluasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi para guru bahwa penyusunan asesmen membutuhkan kecermatan. Sebuah soal yang panjang belum tentu HOTS, begitu pula soal yang sulit belum tentu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Yang terpenting adalah bagaimana stimulus dan pertanyaan yang disusun mampu mendorong peserta didik menganalisis, mengevaluasi, menghubungkan informasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan pemikiran atau solusi.
Workshop ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun budaya evaluasi yang lebih berkualitas di MTs Negeri 3 Banyumas. Soal yang baik bukan sekadar soal yang sulit, tetapi soal yang mampu mengajak murid berpikir, bernalar, menghubungkan pengetahuan dengan konteks kehidupan, dan menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi.
Melalui kegiatan tersebut, MTs Negeri 3 Banyumas terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran dan asesmen yang semakin berkualitas, kontekstual, realistis, dan berdaya nalar tinggi, sekaligus mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.(HumasMTsN3).
