Cahaya Ketakwaan Malam Tarawih di Mushola Nurul Huda
Banyumas — Malam Ramadhan selalu menghadirkan ruang sunyi yang penuh makna. Di sela rakaat tarawih yang khusyuk, kata-kata yang lahir dari ketulusan mampu menjelma cahaya. Itulah yang terasa saat Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, menyampaikan kultum tarawih di Mushola Nurul Huda, baru-baru ini. Kamis (19/02)
Dengan bahasa yang lembut dan mudah dipahami, Muhammad Taubah mengajak jamaah menengok kembali makna Ramadhan sebagai madrasah jiwa. Kultum singkat itu tidak hadir sebagai ceramah yang menggurui, melainkan sebagai ajakan merenung—tentang keikhlasan, kesabaran, dan tanggung jawab manusia sebagai hamba sekaligus khalifah di bumi.
Suasana mushola yang sederhana terasa semakin hidup. Jamaah dari berbagai usia menyimak dengan tenang, seolah setiap kalimat menemukan jalannya sendiri menuju relung hati. Nilai-nilai keislaman disampaikan tanpa jarak, dirangkai dengan contoh kehidupan sehari-hari yang dekat dengan realitas masyarakat.
“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang melatih hati agar peka, dan perilaku agar lebih bermakna,” tutur Muhammad Taubah dalam salah satu penggalan pesannya.
Kegiatan kultum tarawih ini menjadi bagian dari peran penyuluh agama dalam mendampingi umat, tidak hanya di ruang formal, tetapi juga di tengah denyut kehidupan masyarakat. Kehadiran penyuluh di mushola-mushola memperkuat ikatan antara negara, agama, dan umat—sebuah sinergi yang hidup melalui sentuhan personal dan keteladanan.
Bagi jamaah Mushola Nurul Huda, malam itu bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia menjadi perjumpaan antara kata dan makna, antara ilmu dan rasa. Dari mimbar kecil, pesan besar disemai: bahwa Islam hadir untuk menenangkan, membimbing, dan menumbuhkan harapan.
Di bulan yang penuh berkah ini, kultum tarawih menjadi pengingat bahwa cahaya tidak selalu datang dari hal yang megah. Terkadang, ia hadir dari kata-kata sederhana yang disampaikan dengan hati—dan diterima dengan iman.
