Cinta yang Dijaga dengan Kesabaran dan Disuburkan dengan Doa
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas – Ada kebahagiaan yang tidak selalu lahir dari gemerlap kemewahan. Ada pula keharuan yang justru tumbuh dari kesederhanaan yang dipenuhi keikhlasan. Demikianlah suasana yang menyelimuti Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang ketika Penghulu KUA Jatilawang, Iskandar Zulkarnain, melaksanakan pencatatan nikah sekaligus memimpin prosesi ijab qabul pasangan mempelai Junantya dan Talitha Sakhi, keduanya berasal dari Desa Kedungwringin. Kamis (11/06)
Dalam suasana yang khidmat dan penuh kekhusyukan, akad nikah berlangsung di KUA Jatilawang dengan dihadiri keluarga dan para saksi. Kalimat ijab qabul yang terucap dengan mantap menjadi saksi bersatunya dua insan dalam ikatan suci yang tidak hanya diakui oleh negara, tetapi juga diberkahi oleh Allah SWT.
Dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab, Iskandar Zulkarnain memimpin jalannya prosesi akad sekaligus melaksanakan pencatatan nikah sesuai dengan ketentuan syariat Islam dan peraturan yang berlaku. Kesakralan momen tersebut semakin terasa ketika doa-doa dipanjatkan, mengiringi langkah kedua mempelai menuju kehidupan baru yang sarat dengan harapan dan cita-cita.
Di balik senyum yang menghiasi wajah kedua mempelai, tersimpan kisah panjang tentang penantian, perjuangan, serta doa-doa yang tak pernah putus dari kedua orang tua. Sebab sesungguhnya, sebuah pernikahan bukan hanya tentang bertemunya dua hati yang saling mencintai, melainkan juga tentang cinta seorang ayah yang dengan penuh keikhlasan menyerahkan amanah terindah dalam hidupnya, dan kasih seorang ibu yang sejak lama mengiringi langkah anaknya dengan air mata serta doa yang tak pernah berhenti.
Tak sedikit mata yang berkaca-kaca menyaksikan prosesi tersebut. Sebab, akad nikah selalu memiliki bahasa yang tidak diucapkan oleh kata-kata. Ia berbicara melalui getaran hati, melalui senyum yang bercampur haru, dan melalui air mata kebahagiaan yang jatuh tanpa diminta.
Bagi seorang ayah, hari itu adalah hari ketika tangannya perlahan melepaskan genggaman yang selama ini dijaga dengan kasih sayang. Bagi seorang ibu, hari itu adalah jawaban atas ribuan doa yang dipanjatkan pada setiap sujud panjangnya. Dan bagi kedua mempelai, hari itu adalah permulaan dari perjalanan panjang untuk saling menjaga, saling menguatkan, dan bersama-sama menapaki jalan kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Iskandar Zulkarnain menyampaikan harapan agar rumah tangga yang dibangun oleh Junantya dan Talitha Sakhi senantiasa dipenuhi ketenteraman dan keberkahan.
"Akad nikah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan cinta, melainkan awal dari pengabdian, kesetiaan, dan tanggung jawab yang akan dijalani bersama. Semoga kedua mempelai senantiasa diberikan kekuatan untuk saling memahami, saling mencintai, dan saling menggenggam dalam setiap keadaan, sehingga terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah," tuturnya.
Pernikahan yang berlangsung di KUA Jatilawang itu kembali mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari megahnya pesta, melainkan dari keikhlasan hati dan kesungguhan untuk menjaga amanah yang telah Allah titipkan.
Di tengah dunia yang terus berubah dan sering kali dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan, peristiwa akad nikah selalu menghadirkan pelajaran yang begitu indah: bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan seseorang yang sempurna, melainkan tentang dua insan yang bersedia saling menerima kekurangan, saling menguatkan dalam ujian, dan saling bertahan dalam kesetiaan hingga akhir kehidupan.
Dan pada hari yang penuh keberkahan itu, di ruang sederhana KUA Jatilawang, sejarah kecil yang agung kembali ditulis. Dua nama yang dahulu berjalan sendiri-sendiri, kini telah dipersatukan dalam satu janji suci yang disaksikan oleh keluarga, dicatat oleh negara, dan menjadi ibadah yang bernilai mulia di sisi Allah SWT.
Semoga rumah tangga yang dibangun oleh Junantya dan Talitha Sakhi senantiasa dipenuhi cinta yang menenangkan, keberkahan yang melimpah, serta kebahagiaan yang tidak hanya tumbuh di dunia, tetapi juga bersemi hingga keabadian surga.
Sebab pada akhirnya, cinta yang paling indah bukanlah cinta yang banyak dipuji manusia, melainkan cinta yang dijaga dengan kesabaran, disuburkan dengan doa, dan dipersembahkan semata-mata karena Allah Yang Maha Pengasih.
