Kajian Adabul Alim wal Mutaallim Kuatkan Keikhlasan Penyuluh Agama
Oleh KUA JATILAWANG
Jatilawang - Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang kembali menyelenggarakan kajian rutin kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di KUA Jatilawang. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan keilmuan dan spiritual bagi para penyuluh sebagai bekal dalam melaksanakan tugas bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat. Kamis (09/07)
Pada pertemuan kali ini, kajian mengangkat tema tentang keikhlasan dalam menuntut ilmu, dengan menelaah hadis Rasulullah SAW yang memberikan peringatan tegas kepada setiap penuntut ilmu agar meluruskan niatnya. Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa yang mencari ilmu karena selain Allah atau menghendaki selain Dzat Allah, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di api neraka." (HR. Tirmidzi)
Dalam pemaparannya, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang menjelaskan bahwa ilmu agama merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia. Oleh karena itu, niat dalam menuntut ilmu harus semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, bukan demi mengejar popularitas, kedudukan, pujian, ataupun keuntungan duniawi.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa seorang penyuluh agama memikul amanah besar sebagai penyampai risalah Islam kepada masyarakat. Amanah tersebut harus dijalankan dengan hati yang ikhlas agar ilmu yang disampaikan membawa keberkahan, memberi manfaat, serta menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya.
Kajian kitab yang dilaksanakan secara rutin setiap Kamis pagi ini menjadi salah satu ikhtiar KUA Jatilawang dalam meningkatkan kualitas sumber daya penyuluh agama. Selain memperkaya wawasan keilmuan, kegiatan ini juga menjadi sarana muhasabah agar para penyuluh senantiasa menjaga adab, akhlak, dan kemurnian niat dalam setiap aktivitas dakwah dan pelayanan keagamaan.
Melalui kajian Adabul ‘Alim wal Muta’allim, para penyuluh diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai keikhlasan dalam menjalankan tugas bimbingan dan penyuluhan, sehingga kehadiran mereka benar-benar menjadi penyejuk dan penerang bagi masyarakat. Dengan ilmu yang disertai niat yang lurus, dakwah tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga mengetuk hati dan mengantarkan umat semakin dekat kepada Allah SWT.(dy)
