HUT RI #81

Kerukunan dan Kepedulian Sosial, Diskusi Penyuluh KUA Jatilawang dengan Sesepuh Jatilawang

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
14 Okt 2026
16x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 14-10-2026 10:38
SHARE

Jatilawang — Desa bukan sekadar hamparan rumah yang dipisahkan oleh jalan dan pekarangan. Desa adalah tempat manusia belajar tentang kehidupan, tempat persaudaraan tumbuh, tempat suka dan duka dibagi, serta tempat nilai-nilai kemanusiaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Rabu (14/10)

Berangkat dari semangat itulah, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, berdiskusi dengan sesepuh Desa Adisara, Kyai Mukhlis, untuk membahas berbagai persoalan kehidupan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pandangan sekaligus ikhtiar memahami denyut kehidupan warga. Dalam suasana akrab dan penuh penghormatan, diskusi diarahkan pada pentingnya menjaga kerukunan, memperkuat kepedulian sosial, merawat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan nilai-nilai keagamaan yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Muhammad Taubah, memahami masyarakat tidak cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan. Seorang penyuluh agama perlu hadir, mendengar cerita warga, menyelami persoalan yang mereka hadapi, dan belajar dari kearifan para tokoh yang telah lama hidup bersama masyarakat.

Sebab, di balik pintu-pintu rumah yang tampak tenang, selalu ada kisah kehidupan yang beragam. Ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang tua yang menyimpan kecemasan tentang masa depan anak-anaknya, serta warga yang diam-diam menghadapi persoalan tanpa tahu kepada siapa harus bercerita.

Di tengah kenyataan itulah, agama diharapkan hadir bukan hanya sebagai tuntunan ibadah, melainkan juga sebagai sumber kekuatan, ketenteraman, dan kepedulian terhadap sesama.

Diskusi dengan Kyai Mukhlis menjadi kesempatan berharga untuk menggali pandangan seorang sesepuh yang memahami perjalanan sosial masyarakat Desa Adisara. Kearifan para tokoh masyarakat memiliki arti penting dalam membaca perubahan zaman, mengenali persoalan warga, serta menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Muhammad Taubah memandang bahwa penyuluhan agama perlu berjalan seiring dengan upaya membangun kehidupan sosial yang sehat. Pesan tentang kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama akan lebih bermakna ketika tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, komunikasi antara penyuluh agama dan sesepuh desa menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga lembut dalam memperlakukan sesama.

Pertemuan Muhammad Taubah dengan Kyai Mukhlis juga mengingatkan bahwa membangun masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Penyuluh agama membawa peran pembinaan dan pendampingan spiritual, sedangkan para sesepuh dan tokoh masyarakat memiliki kedekatan sosial serta pengalaman yang berharga. Ketika keduanya saling bertukar pikiran, terbuka peluang untuk memahami kebutuhan warga secara lebih utuh.

Harapannya, diskusi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kehidupan sosial masyarakat Desa Adisara, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa nilai-nilai agama seharusnya menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan bersama.

Pada akhirnya, diskusi antara Muhammad Taubah dan Kyai Mukhlis bukan sekadar pertukaran gagasan. Lebih dari itu, pertemuan tersebut mencerminkan pentingnya merawat komunikasi, menghormati kearifan para sesepuh, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai cahaya dalam. (tum)