Solusi Untuk Tingkatkan Kembali Partisipasi Warga Margasana Dalam Kegiatan Keagamaan
Jatilawang — Ada kerinduan yang tak pernah bersuara: kerinduan masjid terhadap langkah-langkah kaki yang dahulu meramaikannya, serta kerinduan para orang tua melihat generasi penerus semakin dekat dengan nilai-nilai agama. Berangkat dari kepedulian tersebut, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, bertemu dengan Kyai Sabar, tokoh agama Desa Margasana, untuk membahas menurunnya partisipasi warga dalam kegiatan keagamaan. Pertemuan ini menjadi ruang bertukar pikiran guna mencari langkah nyata untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat dalam mengikuti pengajian, majelis taklim, pendidikan Al-Qur'an, dan kegiatan keagamaan lainnya. Rabu (14/10)
Kesibukan bekerja, perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, serta persoalan keluarga menjadi tantangan yang perlu dipahami secara bijaksana. Karena itu, upaya mengajak masyarakat kembali aktif beragama hendaknya tidak dilakukan dengan menyalahkan, melainkan melalui pendekatan yang ramah, dialogis, dan menyentuh kebutuhan mereka.
Bagi Muhammad Taubah, tugas penyuluh agama bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi juga mendengarkan aspirasi warga, memahami persoalan mereka, dan membangun jembatan komunikasi antara masyarakat dengan tokoh agama. Dalam hal ini, Kyai Sabar memiliki peran penting melalui keteladanan dan kedekatannya dengan warga Desa Margasana.
Keduanya membahas pentingnya menghadirkan kegiatan keagamaan yang menarik dan terbuka bagi semua kalangan. Anak-anak membutuhkan pendidikan agama yang menggembirakan, remaja memerlukan ruang untuk berkreasi dan berkontribusi, sedangkan orang tua perlu mendapatkan pendampingan yang menenteramkan hati.
Kolaborasi antara penyuluh agama, tokoh masyarakat, pengurus masjid, pemerintah desa, dan keluarga juga menjadi kunci. Pengajian yang relevan dengan persoalan sehari-hari, pembinaan remaja, pendidikan Al-Qur'an, serta kegiatan sosial yang menumbuhkan kepedulian dapat menjadi langkah untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan kehidupan keagamaan.
Sebab, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang hadir dalam pengajian, tetapi juga dari perubahan yang tumbuh setelah mereka kembali ke rumah. Ketika seseorang menjadi lebih santun, keluarga semakin harmonis, dan tetangga semakin peduli, di situlah nilai-nilai agama menemukan maknanya dalam kehidupan nyata.
Pertemuan Muhammad Taubah dengan Kyai Sabar menjadi pengingat bahwa menghidupkan kegiatan keagamaan membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kerja bersama. Harapannya, ikhtiar ini dapat mendorong meningkatnya partisipasi warga Desa Margasana sekaligus memperkuat kerukunan dan kepedulian sosial.
Sebab, masjid yang hidup bukan sekadar masjid yang ramai oleh suara manusia, melainkan masjid yang cahayanya menuntun hati untuk semakin dekat kepada Allah SWT dan menggerakkan tangan untuk menebarkan kebaikan kepada sesama.
Keberhasilan dakwah bukan sekadar diukur dari ramainya jemaah, tetapi dari tumbuhnya akhlak mulia, keharmonisan keluarga, dan kepedulian terhadap sesama.
Pertemuan Muhammad Taubah dan Kyai Sabar menjadi pengingat bahwa menghidupkan kegiatan keagamaan membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kerja sama. Sebab, masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai oleh jemaah, melainkan masjid yang mampu menuntun hati mendekat kepada Allah SWT dan menggerakkan manusia untuk menebarkan kebaikan.
