Menyelamatkan Akhlak, Menjaga Masa Depan Remaja Desa Tunjung
Jatilawang — Di balik kenakalan seorang remaja, terkadang tersimpan hati yang sedang mencari arah, perhatian yang belum terpenuhi, dan nasihat yang belum menemukan jalan menuju kesadaran. Karena itu, ketika perilaku remaja mulai mengkhawatirkan, yang dibutuhkan bukan hanya teguran, melainkan juga kepedulian, pendampingan, dan keteladanan. Rabu (14/10)
Kepedulian terhadap masa depan generasi muda menjadi pokok diskusi antara Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dengan Ustadz Taufik, tokoh pemuda Desa Tunjung. Keduanya membahas persoalan kenakalan remaja dan krisis akhlak yang menjadi tantangan bersama bagi keluarga dan masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, pembinaan karakter remaja menjadi perhatian penting. Pergaulan yang kurang sehat, penyalahgunaan media sosial, perilaku tidak menghormati orang tua, perundungan, serta melemahnya kepedulian terhadap lingkungan merupakan sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi melalui pendidikan, komunikasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Muhammad Taubah memandang bahwa pembinaan remaja tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau larangan semata. Generasi muda perlu diajak berdialog, didengarkan aspirasinya, dan diberi ruang untuk mengembangkan potensi positif. Pendekatan yang santun dan penuh empati diharapkan mampu membantu mereka memahami bahwa akhlak mulia bukan beban, melainkan bekal untuk menjalani kehidupan dengan bermartabat.
Sementara itu, Ustadz Taufik sebagai tokoh pemuda memiliki peran strategis dalam mendekatkan pesan-pesan kebaikan kepada generasi sebaya. Keteladanan, kegiatan kepemudaan yang positif, serta lingkungan pergaulan yang sehat dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial.
Keduanya memandang bahwa keluarga, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat perlu berjalan bersama dalam membangun karakter generasi penerus. Orang tua perlu menjadi tempat anak bercerita, sementara lingkungan masyarakat hendaknya menyediakan ruang yang aman bagi remaja untuk belajar, berkarya, dan memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Harapannya, diskusi ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kepedulian terhadap pembinaan remaja di Desa Tunjung melalui kegiatan keagamaan, dialog pemuda, dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sebab, menyelamatkan seorang remaja bukan sekadar memperbaiki perilakunya hari ini, melainkan menjaga masa depan yang akan ia bangun esok hari. Jangan biarkan teguran membuatnya merasa dibuang; rangkullah dengan kasih sayang agar ia menemukan jalan pulang menuju akhlak mulia.
