Kisah Syarifudin Penyuluh KUA Wangon: Kompak Berbagi Peran Rawat Anak Bersama Istri

Oleh KUA Wangon
SHARE

 

Banyumas – Menjadi seorang penyuluh agama di Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon menuntut dedikasi yang tinggi dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan mengenai keluarga sakinah kepada masyarakat. Namun, bagi Syarifudin, konsep keluarga sakinah bukan sekadar materi teori yang disampaikan di mimbar atau forum resmi. Ia memilih untuk menghidupkan nilai-nilai keharmonisan tersebut mulai dari dalam rumah tangganya sendiri, dengan membangun komitmen bersama sang istri dalam mengarungi dinamika kehidupan berkeluarga. Senin (20/07)

Setiap pagi, sebelum matahari beranjak tinggi dan jam dinas dimulai, rutinitas di kediaman Syarifudin sudah bergulir dengan penuh kehangatan. Alih-alih membebankan seluruh urusan domestik kepada istri, ia secara konsisten mengambil peran aktif dalam merawat buah hati mereka yang masih balita. Mulai dari membantu memandikan anak, menyiapkan perlengkapan pagi, hingga menemani sang anak bermain, menjadi agenda wajib yang dilakoninya dengan penuh keikhlasan demi meringankan beban kerja sang istri di dapur.

Pembagian peran yang kompak dan berimbang ini menjadi bukti nyata bahwa ketahanan keluarga dapat diwujudkan melalui kerja sama yang solid antar pasangan. Di tengah kesibukan mempersiapkan materi penyuluhan keagamaan, Syarifudin membuktikan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak tidak boleh terabaikan. Langkah kecil bergotong royong di pagi hari ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan suasana rumah yang damai, sekaligus menjaga kedekatan emosional antara ayah dan anak sejak usia dini.

Kebiasaan positif ini pun secara tidak langsung membawa dampak baik terhadap performa kerja Syarifudin di kantor. Memulai hari dengan kebahagiaan dan keharmonisan di rumah membuat suasana hatinya lebih tenang dan positif saat harus turun ke lapangan melayani masyarakat. Perilaku nyata ini menjadikannya sebagai sosok figur teladan bagi rekan sejawat maupun warga binaannya, karena ia dinilai mampu menyelaraskan antara apa yang diserukannya dalam penyuluhan dengan praktik langsung di kehidupan pribadi.

Aktivitas pagi yang penuh kebersamaan tersebut ditutup dengan persiapan Syarifudin menuju ke Kantor KUA Wangon untuk menunaikan tugas negara. Kisah inspiratif ini memberikan pelajaran berharga bahwa membangun keluarga sakinah harus dimulai dari tindakan nyata dan kerelaan untuk saling mendukung. Dengan mempraktikkan langsung nilai-nilai kesetaraan dan kasih sayang di rumah, Syarifudin tidak hanya menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, tetapi juga seorang penyuluh agama yang memiliki integritas tinggi dalam setiap pesan kebaikan yang disampaikannya. (srf)