Menanam Ilmu, Menyemai Pengertian: KUA Jatilawang Bekali Catin Mengarungi Bahtera Rumah Tangga
Jatilawang - Pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan cinta dua insan, melainkan awal dari perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu, kesabaran, dan saling pengertian. Untuk mempersiapkan calon pengantin menghadapi kehidupan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, Dedy Purwanto, memberikan bimbingan perkawinan (Bimwin) mandiri kepada Khoeron Zazali dari Desa Tinggarjaya dan Fadhilah Sabilul Khasanah dari Desa Tunjung. Senin (02/11)
Kegiatan Bimwin ini dilaksanakan sebagai bekal bagi calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Melalui bimbingan tersebut, pasangan diharapkan memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai makna pernikahan, tanggung jawab suami istri, serta berbagai dinamika yang mungkin dihadapi dalam membangun keluarga.
Dalam penyampaian materinya, Dedy Purwanto menjelaskan bahwa menikah merupakan ibadah yang memiliki durasi waktu panjang. Karena itu, menjalani kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan rasa cinta, tetapi juga memerlukan bekal ilmu yang luas. Ilmu menjadi panduan bagi pasangan dalam menjalankan hak dan kewajiban, menyelesaikan persoalan, serta menjaga keharmonisan keluarga.
Calon pengantin juga diingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi sekaligus mempertemukan dan menyatukan dua keluarga dengan latar belakang, kebiasaan, serta karakter yang mungkin berbeda. Oleh sebab itu, diperlukan sikap saling menghormati, menjaga komunikasi, dan membangun hubungan kekeluargaan yang baik dengan kedua belah pihak.
Lebih lanjut, Dedy menyampaikan bahwa kehidupan rumah tangga terkadang tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Ada kalanya pasangan menemukan sikap, kebiasaan, atau keadaan yang berbeda dari bayangan sebelum menikah. Dalam menghadapi hal tersebut, suami dan istri perlu mengedepankan saling pengertian dan saling menghormati, bukan sekadar menuntut pasangan agar selalu sesuai dengan keinginan masing-masing.
Suasana bimbingan berlangsung ceria dan penuh dialog. Khoeron dan Fadhilah mengikuti kegiatan dengan antusias. Komunikasi dua arah memberikan kesempatan kepada calon pengantin untuk bertanya, menyampaikan pandangan, serta mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan kesiapan membangun rumah tangga.
Melalui kegiatan ini, KUA Jatilawang berupaya memberikan penguatan pengetahuan dan kesiapan mental bagi calon pengantin agar mampu membangun keluarga yang harmonis. Bekal ilmu, sikap saling memahami, dan penghormatan terhadap perbedaan diharapkan menjadi fondasi dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Pernikahan adalah perjalanan panjang yang tidak selalu dihiasi jalan mulus. Dengan ilmu sebagai kompas dan pengertian sebagai penguat, pasangan suami istri diharapkan mampu menjaga komitmen serta bersama-sama mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. (dy)
