HUT RI #81

Menggali Seni Menasihati Diri Perspektif Bidayatul Hidayah

P
Pokjaluh
03 Nov 2026
14x dibaca
Diubah oleh yudi pada 03-11-2026 09:14
SHARE

Banyumas - Menjaga kesucian hati di tengah pergaulan sosial sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Muslim. Guna memperkuat benteng moral dan kesadaran rohani masyarakat, Joharulloh Penyuluh Agama KUA Wangon menyelenggarakan kegiatan bimbingan penyuluhan bidang akhlak di Majelis Taklim Roudlotul Jannah Slatri. Mengangkat tema seni menasihati diri (muhasabah) berlandaskan panduan kitab monumental Bidayatul Hidayah karya Al-Imam Al-Ghazali, majelis ilmu ini menjadi momentum berharga bagi jamaah untuk belajar memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh. Selasa (03/11)

Kegiatan bimbingan rohani tersebut dipandu langsung oleh Joharulloh di hadapan puluhan jemaah yang hadir, ia memaparkan konsep dasar menasihati diri sebelum sibuk menilai atau mencari kekurangan orang lain. Melalui penjelasan yang terstruktur dan kontekstual, penyuluh mengajak jemaah untuk menjadikan kitab Bidayatul Hidayah sebagai cermin kehidupan sehari-hari, tempat seseorang bisa jujur melihat aib sendiri, mengontrol hawa nafsu, serta menata niat dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dalam penyampaian materinya, Joharulloh menekankan pentingnya introspeksi sebagai fondasi utama keluhuran akhlak dan ketenangan jiwa. "Ajaran Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah mengingatkan kita bahwa musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan kesombongan dan kebiasaan kita yang terlalu sibuk menghakimi sesama. Seni menasihati diri adalah keberanian untuk menatap hati sendiri, mengakui kesalahan, serta konsisten meluruskan niat agar setiap tindakan kita bernilai ibadah di sisi Allah," tegas Joharulloh di hadapan para jemaah.

Kehangatan dan kedalaman materi yang disampaikan sukses memberikan kesan spiritual yang mendalam bagi para peserta pengajian. Titin, salah satu jemaah Majelis Taklim Roudlotul Jannah Slatri, mengaku sangat tersentuh dan terdorong untuk lebih giat bermuhasabah setelah menyimak penjelasan tersebut. "Materi dari Pak Joharulloh benar-benar meresap ke hati. Saya jadi tersadar betapa seringnya kita lupa menasihati diri sendiri karena sibuk mengurusi hal di luar diri. Pemaparan kitab Bidayatul Hidayah ini memberi petunjuk yang sangat jelas bagi kami untuk belajar lebih sabar dan rendah hati," tutur Titin penuh rasa syukur.

Melalui pembinaan akhlak secara berkelanjutan ini, Penyuluh  terus menunjukkan dedikasi nyatanya dalam membimbing keagamaan masyarakat hingga ke tingkat desa. Kehadiran kegiatan penyuluhan berbasis literasi kitab klasik ini diharapkan dapat membentuk karakter jemaah Majelis Taklim Roudlotul Jannah Slatri yang santun, bijaksana, dan senantiasa berbenah diri. Pihak KUA Wangon pun berkomitmen untuk terus menyebarkan syiar Islam yang menyejukkan demi terciptanya tatanan masyarakat yang rukun, harmonis, dan berakhlak mulia. (jhr/tum)