HUT RI #81

Penghulu Jelaskan Makna Khotbah Nikah Bagi Calon Pengantin

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Pernikahan bukan sekadar peristiwa ketika dua insan mengucapkan janji di hadapan penghulu dan para saksi. Di balik akad yang singkat, terdapat amanah panjang yang akan dijalani dalam kehidupan berumah tangga. Karena itu, setiap bagian dalam prosesi pernikahan memiliki nilai dan pesan yang layak dipahami oleh calon pengantin. Rabu (30/09)

Hal tersebut menjadi bagian dari penjelasan Iskandar Zulkarnain, Penghulu KUA Jatilawang, kepada calon pengantin Mukhamil Yahya dan Sudiyati mengenai khotbah nikah sebagai salah satu bagian yang menyertai prosesi pernikahan.

Dalam penjelasannya, Iskandar menerangkan bahwa khotbah nikah pada umumnya berisi nasihat dan pesan keagamaan bagi pasangan yang akan memasuki kehidupan rumah tangga. Pesan tersebut menjadi pengingat agar suami dan istri senantiasa membangun keluarga dengan landasan ketakwaan, tanggung jawab, kasih sayang, serta saling menghormati.

Bagi Mukhamil Yahya dan Sudiyati, penjelasan tersebut menjadi bekal untuk memahami bahwa pernikahan tidak berhenti pada sahnya akad. Setelah kata “sah” terucap, kehidupan baru justru dimulai. Ada kewajiban yang harus ditunaikan, hak yang perlu dihormati, serta perasaan yang harus dijaga.

Iskandar juga menjelaskan bahwa pesan-pesan dalam khotbah nikah dapat menjadi pengingat bagi pasangan agar kehidupan rumah tangga senantiasa diarahkan kepada kebaikan. Suami dan istri diharapkan mampu membangun komunikasi yang sehat, menjaga kepercayaan, serta menyelesaikan persoalan dengan cara yang bijaksana.

Khotbah nikah pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kata yang didengarkan sebelum atau sesudah akad. Ia dapat menjadi momentum untuk merenungkan kembali tujuan pernikahan. Bahwa rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling berkuasa, melainkan ruang untuk belajar saling menguatkan dan menunaikan amanah kehidupan bersama.

Dalam kehidupan nyata, perjalanan rumah tangga tentu tidak selalu berjalan tanpa ujian. Akan ada hari ketika kebahagiaan datang seperti matahari pagi, tetapi ada pula masa ketika kesulitan terasa seperti hujan yang panjang. Pada saat itulah nasihat agama menjadi pengingat agar pasangan tidak mudah kehilangan arah.

Kepada Mukhamil Yahya dan Sudiyati, pemahaman tentang khotbah nikah menjadi bagian dari kesiapan menyambut kehidupan baru. Keduanya diharapkan tidak hanya mempersiapkan diri untuk menjalani prosesi akad, tetapi juga mempersiapkan hati untuk menerima segala tanggung jawab yang menyertainya.

Pelayanan kepenghuluan KUA Jatilawang terus diarahkan agar calon pengantin memperoleh informasi dan pemahaman yang memadai sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Penjelasan yang diberikan kepada calon pengantin menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa pernikahan merupakan ikatan yang memiliki dimensi hukum, sosial, sekaligus spiritual.

Sebab, ketika akad selesai dan para tamu meninggalkan tempat, kehidupan sesungguhnya baru dimulai. Dua insan akan kembali ke rumah, menatap hari-hari yang belum mereka ketahui, lalu belajar berjalan beriringan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Semoga pemahaman yang diterima Mukhamil Yahya dan Sudiyati tentang khotbah nikah menjadi bekal untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Karena nasihat dalam khotbah mungkin hanya terdengar beberapa menit, tetapi jika meresap ke dalam hati, ia dapat menjadi pengingat yang menemani suami dan istri sepanjang perjalanan rumah tangga.