Penyuluh Jelaskan Makna Kesalingan dalam Rumah Tangga
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Pernikahan bukan tentang siapa yang harus selalu mengalah dan siapa yang harus selalu menang. Pernikahan adalah perjalanan dua manusia untuk belajar saling menguatkan, saling menghargai, dan saling menjaga. Nilai itulah yang menjadi salah satu pesan penting dalam Bimbingan Perkawinan (Bimwin) yang diberikan Ahmad Muttaqin, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, kepada Calon Pengantin (Catin) Doni Alvando dan Avi Oktavia dengan tema “Menjalin Kesalingan antara Suami Istri.” Rabu (30/09)
Dalam bimbingan tersebut, Ahmad Muttaqin mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa kehidupan rumah tangga akan menjadi lebih kuat ketika suami dan istri menempatkan diri sebagai pasangan yang saling membutuhkan. Tidak ada pihak yang harus merasa paling tinggi, sebagaimana tidak semestinya ada yang merasa paling rendah.
Kesalingan berarti suami dan istri sama-sama memiliki kesempatan untuk didengar, dihargai, diperhatikan, dan disayangi. Ketika salah satunya sedang lemah, yang lain hadir memberi kekuatan. Ketika salah satunya sedang bersedih, yang lain menjadi tempat untuk pulang. Dan ketika kebahagiaan datang, keduanya belajar menikmatinya sebagai anugerah yang dibagi bersama.
Ahmad Muttaqin menyampaikan bahwa rumah tangga tidak dibangun hanya dengan rasa cinta. Cinta perlu dirawat dengan komunikasi, penghormatan, kepercayaan, tanggung jawab, dan kesediaan memahami pasangan. Sebab perasaan dapat berubah mengikuti keadaan, tetapi komitmen untuk saling menjaga harus terus dipelihara.
Doni Alvando dan Avi Oktavia diajak menyadari bahwa kehidupan setelah akad akan mempertemukan mereka dengan berbagai keadaan. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa berat, ekonomi mungkin menghadirkan tantangan, tubuh membutuhkan istirahat, atau perbedaan pendapat tidak dapat dihindari. Pada saat seperti itulah kesalingan menjadi penting.
Suami tidak hanya membutuhkan penghormatan dari istrinya, tetapi juga perlu memberikan penghormatan yang sama. Istri tidak hanya membutuhkan kasih sayang dari suaminya, tetapi juga perlu menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan bersama. Saling memberi, bukan saling menuntut; saling memahami, bukan saling menghakimi.
Sebab terkadang, yang dibutuhkan pasangan bukanlah solusi yang rumit. Hanya sebuah kalimat sederhana, “Aku ada di sini,” dapat menjadi kekuatan ketika dunia terasa begitu berat.
Kesalingan juga mengajarkan pasangan untuk tidak menghitung-hitung pengorbanan. Dalam rumah tangga, ada pekerjaan yang terlihat dan ada pengorbanan yang tidak pernah disebutkan. Ada tangan yang bekerja mencari nafkah, ada tangan yang menyiapkan kehidupan di rumah, dan ada doa-doa yang diam-diam dipanjatkan ketika pasangan sedang tidak mengetahui.
Semua itu menjadi bagian dari cinta yang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Melalui Bimwin, Ahmad Muttaqin mengajak Doni Alvando dan Avi Oktavia mempersiapkan diri bukan hanya untuk menjadi pasangan yang bahagia, tetapi juga menjadi pasangan yang mampu bertahan ketika kebahagiaan sedang diuji.
Karena rumah tangga yang kokoh bukanlah rumah tangga yang tidak pernah memiliki masalah. Rumah tangga yang kokoh adalah rumah tangga yang ketika masalah datang, keduanya tidak saling meninggalkan, melainkan saling mendekat dan berkata, “Kita hadapi bersama.”
Pada akhirnya, pernikahan adalah perjalanan pulang kepada sebuah rumah yang di dalamnya seseorang ingin merasa diterima apa adanya. Tempat seseorang dapat meletakkan lelah tanpa takut dihakimi. Tempat air mata tidak perlu disembunyikan. Tempat kekurangan tidak dijadikan alasan untuk merendahkan, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi.
