Sentuhan Kecil Tapi Bermakna dari KUA untuk Catin
Banyumas — Kantor Urusan Agama tidak hanya berbicara tentang akad dan dokumen. Di sanalah nilai, perhatian, dan keikhlasan dirajut pelan-pelan. Seperti yang dilakukan KUA Jatilawang, yang dengan penuh kepedulian membungkus snack untuk diberikan kepada calon pengantin (Catin) yang telah menyelesaikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) secara mandiri. Kamis (19/02)
Bukan sekadar makanan ringan. Snack itu adalah simbol—sebuah bahasa tanpa kata yang menyampaikan bahwa setiap langkah menuju pernikahan layak diapresiasi. Bahwa usaha belajar, memahami, dan mempersiapkan diri sebelum mengikat janji seumur hidup adalah hal yang bernilai.
Bimwin mandiri, yang ditempuh para Catin dengan kesadaran dan tanggung jawab pribadi, sering kali dijalani tanpa sorotan. Namun KUA Jatilawang memilih melihatnya sebagai proses penting yang patut dihormati. Melalui sentuhan kecil berupa snack yang dibungkus rapi, lembaga ini menghadirkan kehangatan institusi negara yang tak berjarak, tak kaku, dan sarat empati.
“Ini bukan soal besar atau kecilnya bingkisan,” ujar salah satu petugas KUA Jatilawang. “Kami ingin para Catin merasa dihargai. Mereka sudah berikhtiar mempersiapkan pernikahan dengan sungguh-sungguh, dan itu patut diapresiasi.”
Langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa pelayanan publik tak selalu diukur dari anggaran besar atau program megah. Terkadang, ia hadir lewat hal-hal kecil yang menyentuh hati—melalui perhatian yang tulus dan niat baik yang jujur.
Di tengah tantangan kehidupan rumah tangga yang kian kompleks, KUA Jatilawang menegaskan perannya bukan hanya sebagai pencatat pernikahan, tetapi juga sebagai pendamping awal perjalanan keluarga. Bimwin bukan formalitas, melainkan bekal. Dan snack itu—meski sederhana—adalah penutup manis dari sebuah proses belajar tentang cinta, tanggung jawab, dan komitmen.
Dari Jatilawang, pesan itu mengalir pelan namun dalam: bahwa membangun keluarga dimulai dari kepedulian. Dari niat baik. Dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati besar.
