SMA Negeri 4 Purwokerto Gelar BRUS Angkatan 16-17, Bekal Penting Cegah Pernikahan Dini

Oleh Seksi Bimas
SHARE

Purwokerto – Kementerian Agama Kabupaten Banyumas melalu seksi bimas islam kembali menyelenggarakan program Bimbingan Pranikah Remaja Usia Sekolah (BRUS) Angkatan 16 dan 17 di SMA Negeri 4 Purwokerto. Kegiatan ini disambut dengan hangat dan antusias oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Purwokerto, Sobirin Slamet, beliau menyampaikan bahwa program yang dicanangkan ini menjadi bekal berharga bagi para siswa untuk melangkah ke masa depan dengan lebih matang dan bijaksana. Dukungan penuh ini menunjukkan komitmen pihak sekolah dalam membimbing peserta didik menghadapi tantangan kehidupan remaja masa kini. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para siswa semakin siap mengambil keputusan penting dalam hidup mereka kelak. Kamis (06/08)

Dalam sambutannya, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Agus Setiawan mengingatkan bahwa risiko yang timbul akibat pernikahan dini sangatlah besar dan merugikan. Salah satu dampak nyata yang ditimbulkan adalah terjadinya gangguan pertumbuhan fisik atau stunting pada anak yang lahir dari pernikahan tersebut. Beliau juga menggunakan contoh melalui serial televisi lama berjudul "Pernikahan Dini" agar para siswa lebih mudah memahami dampak buruk yang bisa terjadi. Selain itu, para siswa juga diberikan penjelasan mendalam mengenai bahaya penularan serta dampak jangka panjang dari penyakit HIV/AIDS. Langkah ini sejalan dengan program CEPAK atau Cegah Pernikahan Anak yang sedang digalakkan secara gencar untuk menurunkan angka pernikahan dini di wilayah Kabupaten Banyumas.

Agar penyampaian materi semakin lengkap dan mendalam, kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten dari lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Mereka antara lain Tini Hayatur Rohmah, Nur Hidayati,  Amin Supangat, Lubab Habiburrohman, Sokhidin, serta Muhammad Taubah. Para pemateri ini membawa wawasan yang luas terkait norma agama, hukum, serta tanggung jawab yang menyertai kehidupan berkeluarga. Kehadiran mereka menjadi peluang emas bagi para siswa untuk bertanya dan memahami hal-hal yang sering luput dari perhatian remaja. Semua materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami namun tetap berbobot dan menyentuh kesadaran peserta.

Pemateri tidak hanya datang dari unsur keagamaan saja, melainkan juga melibatkan tenaga profesional dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Ismi Farchati, hadir untuk menjelaskan secara rinci aspek kesehatan reproduksi serta dampak fisik yang ditimbulkan apabila menikah pada usia yang belum matang. Kerja sama antarinstansi ini menjadi bukti bahwa upaya melindungi remaja memerlukan peran bersama dari berbagai pihak yang berwenang. Para siswa terlihat menyimak setiap penjelasan dengan saksama, menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi mereka. Semoga ilmu yang didapat menjadi pedoman yang menjaga para siswa tetap berhati-hati hingga tiba waktunya untuk membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia.