Bedah Filosofi Nama Ramadan, Penyuluh Ajak Jamaah MT An Nisa Purwokerto Maknai Panas yang Menyucikan
Purwokerto – Gema syiar Islam di bulan suci terus dipacu oleh para Penyuluh Agama Islam KUA Purwokerto Timur. Taufiq Hidayatulloh mengisi kajian rutin bersama Majelis Taklim (MT) An Nisa yang bertempat di kompleks Masjid Ath Thohiriyyah, Purwokerto. Jumat, (20/02)
Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00 hingga 11.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 20 jamaah ibu-ibu dengan penuh antusias. Acara diawali dengan tadarus Al-Qur'an bersama sebagai bentuk pemanasan spiritual sebelum memasuki inti materi kajian.
Dalam tausiyahnya, Taufiq mengupas tuntas mengenai asal-usul dan filosofi nama Ramadan. Ia menjelaskan bahwa secara etimologi, Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramida atau ar-ramad, yang berarti panas menyengat, membakar, atau kekeringan.
"Dinamakan Ramadan karena secara historis bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah ini sering jatuh pada musim panas yang ekstrem. Namun secara filosofis, panas ini melambangkan terbakarnya dosa-dosa serta panasnya rasa haus yang kita rasakan saat berpuasa," jelas Taufiq di hadapan para jamaah.
Taufiq membedah makna Ramadan ke dalam beberapa poin penting:
- Panas yang Membakar: Menggambarkan panas terik matahari yang membakar tanah, selaras dengan semangat membakar hawa nafsu.
- Penyucian Dosa: Ramadan menjadi momentum di mana dosa-dosa manusia "dibakar" habis melalui amal saleh dan pertobatan.
- Kekeringan (Rasa Haus): Sebuah pengingat akan perjuangan fisik umat Muslim dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Lebih dalam lagi, Taufiq memaparkan interpretasi unik mengenai singkatan huruf yang membentuk kata Ramadan. Ia menyebutkan bahwa huruf RA melambangkan Rahmat Allah, MA melambangkan Maghfiroh (ampunan), dan DHA melambangkan Dho'fu atau pahala yang dilipatgandakan.
"Itulah mengapa bulan ini disebut sebagai Syahrul Ghufron, atau bulan ampunan. Pintu tobat terbuka lebar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh. Bahkan, saking mulianya nama ini, banyak orang tua memberikan nama 'Ramadhan' kepada anak laki-laki mereka dengan harapan sang anak memiliki karakter yang kuat dan religius," tambahnya.
Kegiatan kajian yang sarat ilmu ini diakhiri dengan khidmat saat memasuki waktu zuhur. Seluruh jamaah dan pemateri kemudian melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di Masjid Ath Thohiriyyah sebagai penutup rangkaian agenda pagi tersebut. (jw)
