Bikin Decak Kagum: Cara Penyuluh Agama Sampaikan BRUS di SMP PGRI Wangon
Banyumas - Suasana halaman SMP PGRI Wangon tampak berbeda dan penuh antusiasme pada kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kantor Urusan Agama (KUA) Wangon kembali menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda melalui pendekatan yang segar, interaktif, dan edukatif. Program nasional yang ditujukan untuk membekali para remaja dengan kesadaran diri (self-awareness) serta ketahanan mental ini dikemas secara menarik sehingga mampu menyedot perhatian dan simpati seluruh siswa yang hadir. Rabu (21/10)
Penyuluhan kali ini dipandu langsung oleh Joharulloh, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, yang membawakan materi dengan gaya komunikasi adaptif khas remaja. Dibandingkan menyampaikan ceramah searah yang kaku, ia memilih metode pembelajaran berbasis permainan kelompok (game-based learning) untuk membedah topik kesadaran diri secara mendalam. Melalui simulasi dan dinamika kelompok tersebut, para siswa diajak untuk mengenali potensi, memahami regulasi emosi, serta menyadari pentingnya menjaga benteng moral di tengah derasnya arus pergaulan modern.
Di sela-sela kegiatan, Joharulloh menegaskan bahwa pembentukan karakter remaja harus dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri sebelum melangkah ke hubungan sosial yang lebih luas. "Remaja hari ini membutuhkan ruang untuk mengenali siapa diri mereka, apa kelebihan dan kekurangannya, serta ke mana arah masa depan yang ingin diraih. Lewat gim edukatif ini, kami ingin pesan-pesan kesadaran diri dan nilai-nilai keagamaan masuk secara alami tanpa merasa digurui," ujar Joharulloh di depan peserta bimbingan.
Suasana semakin meriah ketika Joharulloh mengajak beberapa siswa maju ke depan untuk terlibat dalam permainan ketangkasan dan refleksi diri. Salah satu peserta yang diajak berinteraksi langsung, Bayu, siswa kelas IX SMP PGRI Wangon, mengaku sangat terkesan dan merasa mendapatkan pemahaman baru dari kegiatan tersebut. "Awalnya saya kira bakal membosankan seperti ceramah biasa, tapi ternyata seru banget karena ada game-nya. Saya jadi lebih paham pentingnya mengontrol emosi dan lebih percaya diri untuk mengenali kemampuan diri sendiri," ungkap Bayu dengan wajah sumringah.
Melalui inovasi penyampaian materi ini, KUA Wangon membuktikan bahwa bimbingan keagamaan dan karakter bagi remaja dapat disampaikan secara modern serta menyenangkan. Pihak SMP PGRI Wangon pun mengapresiasi langkah nyata para penyuluh agama yang dinilai berhasil memberikan dampak positif bagi perkembangan psikologis dan spiritual siswa. Diharapkan, kegiatan BRUS ini dapat terus berlanjut secara konsisten guna mencetak generasi muda yang berakhlak mulia, mandiri, dan memiliki kesadaran diri yang kuat. (jhr)
