Direktur KSKK Madrasah Tinjau Asrama MIN 1 Banyumas

Oleh Seksi Penma
SHARE

PURWOKERTO - Direktur Kelembagaan, Sarana dan Prasarana, Kurikulum dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Mohammad Isom, M.Ag berkunjung ke MIN 1, MTsN 1 dan MAN 2 Banyumas, Jum'at (26/11) kemarin. Dalam kunjungannya Prof. Isom sangat terkesan pada ketiga madrasah tersebut. "Alhamdulillah saya sudah berkunjung ke MIN 1 Banyumas, MTsN 1 Banyumas dan MAN 2 Banyumas. Kesan saya ketiga madrasah ini adalah madrasah yang indah, asri, sejuk dan membangkitkan semangat belajar serta cinta belajar", ungkapnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Isom memberikan pembinaan kepada warga madrasah, terutama MIN 1, MTsN 1 dan MAN 2 Banyumas sebagai pengelola madrasah berasrama. "Banyak pesantren yang dicintai masyarakat, namun belum hegemonic dalam hal percaturan pendidikan dunia, maka tugas kita menggerakkan madrasah agar punya prestasi sehingga masyarakat semakin cinta pada madrasah" tuturnya.

Menurut Prof. Isom, Kharisma madrasah bisa dibangun dengan akhlak dan leadership. bukan dengan mitos. Kalau gus nya tidak punya ilmu seperti abahnya, cepat atau lambat akan tergerus. Jadi, yang penting dalam berasrama, ada kiyainya yang ilmunya bagus, ubudiahnya bagus, dan akhlaknya bagus. Yang tidak bisa disamakan pesantren dengan madrasah berasrama adalah pesantren ada sanad ilmunya, tarekat, riyadah, dan kitab kuning. Sehingga madrasah berasrama perlu dibuat seperti pesantren, sanadkan ilmunya melalui guru guru dari pesantren.

Digitalisasi madrasah saat ini menjadi penting agar smartclassroomnya kuat. Dengan digitalisasi madrasah kita bisa kemana-mana dan madrasah bisa mendatangkan guru dari mana saja. Pendidikan karakter harus berada di alam nyata, karenanya harus ada cermin bagi siswa kita, sedangkan untuk capaian kognitif di madrasah asrama bisa diakselerasi. Misalnya anak MI sudah bisa menghafal juz amma. "Madrasah berasrama juga harus bisa menunjukkan distinctif dan excelentif atau pembeda dan keunggulannya dengan yang lain misalnya tahfidul quran" pungkas Prof. Isom.  (akw)