Guru MAN 3 Banyumas Raih Prestasi dalam Lomba Menulis Puisi
Oleh MAN 3 Banyumas
Banyumas – Guru MAN 3 Banyumas, Asih Suyatni, berhasil meraih prestasi dalam ajang lomba menulis puisi bertajuk “1001 Guru Banyumas Menulis Puisi” (2/11). Lomba yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, bekerja sama dengan Komunitas Penulis Pendidik dan Pelajar Nusantara (KP3N) dan SIP Publishing, diikuti 1012 peserta. Para peserta merupakan guru-guru TK/PAUD/sederajat, SD/sederajat, SMP/sederajat, SMA/SMK/sederajat di Kabupaten Banyumas.
Lomba dilaksanakan secara daring dengan mengirimkan naskah melalui email panitia. Setelah pengiriman naskah, peserta juga harus konfirmasi melalui WA narahubung. Rangkaian kegiatan dalam lomba tersebut diawali pelatihan oleh Nana Sastrawan (4/10). Selanjutnya penulisan dan pengiriman naskah (5-15/10), rekap naskah (15-16/10), kurasi dan penjurian (17-30/10), pengumuman peserta lolos 1001 besar (1/11), dan pengumuman peserta terbaik 10 besar (2/11).
Peserta yang masuk dalam 10 puisi terbaik adalah 1) Asih Suyatni, MAN 3 Banyumas – Gadis Manis dan Pohon Rambutan, 2) Catur Rahayuningsih, SDN 2 Pekaja – Hadirmu di Ujung Rindu, 3) Elisabeth Herni Widiastuti, SMPN 2 Purwokerto – Bangku Kosong, 4) Linda Safarlina, MAN 2 Banyumas – Saat Kelas Berbicara, 5) Nurul Aifah, MA An-Najah Cilongok – Satu Pasang Khaki, 6) Rindi Dwi Jayanti, SD Darul Qur’an Al-Karim Karangtengah – Buku Catatan, 7) Riyanti, SDN 2 Sokawera – Wajah Guru, 8) Rosi Dwi Budiastuti, SMAN 1 Purwokerto – Ziarah Peradaban, 9) R. Mareta, SDN Sambeng Wetan – Sosok Penjemput Mimpi, dan 10) Susmi Hartini, SDN 3 Cihonje – Pohon Tua.
Pada pemilihan 10 karya terbaik, kurator sekaligus juri, Nana Sastrawan dan Abah Yoyok, menyampaikan bahwa setelah proses penyeleksian selesai, tim kurator sepakat untuk memilih 10 puisi terbaik di antara yang baik. Puisi-puisi tersebut seolah mewakili keseluruhan hal yang diusung di semua puisi yang terkumpul bertemakan Pendidikan tersebut.
Lebih lanjut mereka mengemukakan bahwa kesepuluh puisi terbaik itu di setiap lariknya memiliki napas rasa bahasa di dalam sastra dan bahasa rasa (perasaan) yang turut mewakilkan komponen pendidikan di negeri ini, khususnya dalam proses belajar mengajar di tengah pandemi. Nana dan Yoyok sepakat bahwa para guru yang menulis puisi-puisi tersebut memiliki potensi untuk menjadi lebih serius, profesional dalam menulis puisi, dengan membaca karya-karya sastra, khususnya puisi, serta melatih kepekaan rasa terhadap lingkungan sekitar . “Bagaimana pun, kerja menulis puisi tak akan pernah berhasil tanpa mengasah kepekaan rasa,” pungkas Nana.(man3)
