HUT RI #81

Juri Apresiasi Motivasi Guru RA Banyumas, Lencana Bintang Jadi Contoh Inovasi Penguatan Karakter Berbasis Panca Cinta

K
kemenag Banyumas1
26 Okt 2026
42x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 26-10-2026 14:48
SHARE

Banyumas — Tingginya motivasi guru Raudhatul Athfal (RA) dalam mengikuti Lomba Best Practice Implementasi Panca Cinta dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi indikator positif tumbuhnya kesadaran untuk meningkatkan profesionalisme dan kualitas pembelajaran. Apresiasi tersebut disampaikan oleh Siti Nur Hidayati, yang akrab disapa Inung, salah satu juri Lomba Best Practice dalam kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Kabupaten Banyumas, bertempat di Ruang Rapat Utama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Sabtu (24/10)

Bersama Ella Mardliyah, dosen UIN Saizu Purwokerto, Inung mengapresiasi antusiasme para guru RA yang menunjukkan komitmen untuk terus mengembangkan kompetensi dan berinovasi dalam pembelajaran. Tingginya partisipasi peserta memperlihatkan bahwa kompetisi dapat menjadi ruang pengembangan profesional, refleksi praktik pendidikan, sekaligus wahana berbagi pengalaman untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan anak usia dini.

Menurut Inung, lomba Best Practice tidak semestinya berhenti pada pencapaian prestasi individual. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi guru untuk mengidentifikasi keberhasilan program, mengevaluasi proses pelaksanaannya, serta mendiseminasikan praktik baik yang berpotensi direplikasi oleh satuan pendidikan lain. Dalam konteks implementasi Panca Cinta dan KBC, pengalaman konkret guru menjadi penting untuk memperlihatkan bagaimana nilai-nilai cinta diterjemahkan menjadi pembiasaan dan perilaku nyata dalam kehidupan anak.

Meski memberikan apresiasi tinggi, Inung juga menyoroti aspek yang perlu diperkuat, yaitu kemampuan guru mendokumentasikan praktik baik secara sistematis. Dalam penilaian, terdapat pengalaman program yang dapat dipaparkan secara terperinci dan menarik, tetapi belum sepenuhnya tertuang dalam laporan tertulis. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterampilan melaksanakan inovasi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan menulis, menyajikan bukti pendukung, dan merefleksikan hasilnya. Dokumentasi yang memadai menjadi dasar untuk menilai keberhasilan program secara lebih objektif sekaligus membuka peluang bagi guru lain untuk mempelajari dan mengadaptasi praktik tersebut.

Salah satu contoh konkret praktik baik yang menarik perhatian adalah program Lencana Bintang: Inovasi Strategi dalam Penguatan Karakter Akhlakul Karimah Berbasis Panca Cinta di RA Muslimat NU Diponegoro 211 Kracak, sebagaimana dipaparkan dalam infografis karya Neni Widiyawati. Program ini mengembangkan strategi pembentukan karakter melalui siklus Li-Te-Bi-Ap-Ma-Lan, yaitu Lihat, Teladankan, Biasakan, Apresiasi, Maknai, dan Lanjutkan.

Secara konseptual, strategi tersebut menempatkan pembentukan karakter sebagai proses bertahap. Anak terlebih dahulu diajak mengenali perilaku baik, memperoleh keteladanan dari guru dan orang tua, kemudian membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Apresiasi melalui Lencana Bintang menjadi penguatan positif, sedangkan tahap pemaknaan membantu anak memahami nilai di balik perilaku yang dilakukan. Tahap melanjutkan diarahkan agar kebiasaan baik tumbuh menjadi karakter yang konsisten, bukan sekadar perilaku sesaat untuk memperoleh penghargaan.

Menariknya, program ini tidak hanya mengandalkan gagasan, tetapi juga menyertakan data pengamatan awal dan evaluasi pelaksanaan. Berdasarkan infografis, dari 47 anak pada awal tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 37 anak masih memerlukan pengingat dalam beberapa perilaku karakter, sedangkan 10 anak mulai memahami kebiasaan baik yang diamati. Setelah pelaksanaan program pada Juli–Agustus 2026, tercatat 40 anak lebih konsisten menunjukkan perilaku terpuji tanpa mengharapkan bintang, sementara tujuh anak masih memerlukan pengingat.

Data tersebut memberikan gambaran awal mengenai perkembangan perilaku anak setelah program dilaksanakan. Namun, untuk menyimpulkan efektivitas program secara lebih kuat, diperlukan indikator perilaku yang terukur, dokumentasi perkembangan individual, serta pengamatan berkelanjutan. Dengan demikian, perubahan yang dilaporkan tidak hanya menjadi narasi keberhasilan, tetapi juga memiliki dasar evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari perspektif pendidikan karakter, praktik Lencana Bintang memperlihatkan upaya mengintegrasikan nilai Panca Cinta ke dalam pembelajaran melalui keteladanan, pembiasaan, apresiasi, dan kolaborasi guru dengan orang tua. Praktik ini relevan dengan semangat KBC yang menempatkan cinta sebagai landasan dalam membangun hubungan edukatif, menumbuhkan kepedulian, serta membentuk akhlakul karimah sejak usia dini. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa apresiasi eksternal secara bertahap berkembang menjadi kesadaran internal, sehingga anak melakukan kebaikan bukan semata-mata karena mengharapkan penghargaan, melainkan karena memahami dan menerima nilai kebaikan itu sendiri.

Penyelenggaraan lomba juga memperlihatkan semangat kolektif guru RA dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi. Selain best practice, rangkaian kegiatan menghadirkan lomba antara lain media pembelajaran dan senam yang berlangsung meriah. Beragam karya dan penampilan peserta menghadirkan warna-warni kreativitas di Aula Al Ikhlas  Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas.

Ketua PD IGRA Kabupaten Banyumas, Munawaroh, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti rangkaian lomba dengan penuh kesungguhan dan totalitas. Apresiasi juga diberikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, yang menilai IGRA senantiasa menunjukkan inovasi dan semangat dalam mendorong pengembangan kompetensi guru RA.

Pada akhirnya, praktik baik pendidikan tidak cukup dinilai dari kebaruan gagasan atau kemeriahan pelaksanaan program. Mutu sebuah inovasi juga ditentukan oleh kejelasan tujuan, konsistensi implementasi, bukti perubahan perilaku, serta kemampuan pendidik mendokumentasikan dan merefleksikan hasilnya. Oleh karena itu, antusiasme guru RA dalam mengikuti lomba perlu terus diiringi penguatan budaya menulis dan dokumentasi sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan.

Dari praktik yang nyata, dokumentasi yang tertata, hingga refleksi yang bermakna, best practice dapat berkembang menjadi sumber pengetahuan profesional yang menginspirasi dan menggerakkan peningkatan mutu pendidikan RA secara berkelanjutan. nungh