Ketika Pahala Dilipatgandakan, Janji Seumur Hidup Diikatkan
Banyumas — Di tengah heningnya siang Ramadhan, ketika doa-doa menggantung di langit dan manusia belajar menahan diri dari segala yang membatalkan keikhlasan, KUA Jatilawang tetap membuka pintunya. Dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan pengabdian, KUA Jatilawang terus melayani prosesi ijab qabul pernikahan di bulan suci Ramadhan—bulan yang tidak hanya mengajarkan puasa, tetapi juga memuliakan niat baik dan ikatan suci. Jum’at (20/2)
Di ruang akad yang sederhana namun sarat makna, kalimat ijab dan qabul terucap dengan suara bergetar. Bukan karena ragu, melainkan karena beratnya amanah yang diikrarkan di hadapan Allah. Di bulan ketika pahala dilipatgandakan, janji seumur hidup diikatkan—menjadikan pernikahan bukan sekadar peristiwa hukum, tetapi juga ibadah yang disematkan pada waktu paling mulia.
Pelayanan pernikahan yang tetap berjalan di bulan Ramadhan ini menjadi wujud nyata komitmen KUA Jatilawang dalam menjaga hak masyarakat atas layanan keagamaan tanpa terhalang waktu dan keadaan. Para penghulu dan petugas hadir dengan kesederhanaan, namun penuh kehormatan, memastikan setiap prosesi berjalan sah, tertib, dan khidmat, meski dalam kondisi berpuasa.
Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda. Tidak ada kemewahan berlebihan, tidak pula gegap gempita. Yang ada hanyalah air mata haru orang tua, genggaman tangan yang menguatkan, dan doa-doa lirih agar rumah tangga yang dibangun di bulan suci ini menjadi rumah yang penuh berkah, sabar, dan saling memaafkan.
“Akad nikah di bulan Ramadhan mengajarkan bahwa cinta sejati dimulai dari niat yang lurus,” tutur Kepala KUA Jatilawang dengan suara pelan. Sebab menikah di bulan suci bukan tentang memilih tanggal, melainkan tentang memilih jalan hidup—jalan untuk saling menjaga, saling menerima, dan saling menuntun menuju kebaikan.
Bagi KUA Jatilawang, melayani ijab qabul di bulan Ramadhan adalah bentuk pengabdian tanpa jeda. Di saat lapar dan dahaga menjadi ujian, pelayanan tetap diberikan dengan senyum dan kesungguhan. Karena pada akhirnya, pelayanan ini bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bentuk tanggung jawab kepada Tuhan.
Dari Jatilawang, sebuah pesan mengalir lembut namun dalam: bahwa di bulan ketika segala amal dimuliakan, negara tetap hadir melalui tangan-tangan yang setia melayani. Dan di bulan Ramadhan, ketika cinta diikrarkan dengan nama Allah, pernikahan menjadi doa panjang—yang diharapkan terus dikabulkan sepanjang usia.
