HUT RI #81

KOPI PAGI: Bidang PAI Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan Pokjawas PAI Bangun Gerakan Kolaboratif untuk Penguatan Ekosistem PAI

K
kemenag Banyumas1
07 Nov 2026
13x dibaca
Diubah oleh pengawasPAI pada 07-11-2026 22:41
SHARE

Ungaran, 5–6 November 2026 — Penguatan kualitas Pendidikan Agama Islam (PAI) membutuhkan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan kompetensi individual, tetapi juga pada pemberdayaan seluruh pemangku kepentingan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Semangat inilah yang melandasi Rapat Koordinasi Pengurus Harian Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) PAI Provinsi Jawa Tengah bersama Bidang PAI Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Hotel C3 Ungaran, 5–6 November 2026.

Rapat koordinasi yang dikemas dalam forum KOPI PAGI (Kolaborasi Optimal Para Pecinta Pendidikan Agama Islam) tersebut diarahkan untuk merancang program strategis berbasis analisis kebutuhan (needs assessment) sekaligus merespons berbagai fenomena aktual yang berkembang dalam ekosistem PAI, baik yang berkaitan dengan Guru PAI, Pengawas PAI, maupun peserta didik.

Sejumlah isu prioritas menjadi perhatian dalam penyusunan program, antara lain penguatan karakter, pendidikan ramah anak, pencegahan perundungan (bullying), peningkatan kesejahteraan, serta penguatan kapasitas dan profesionalisme pendidik. Sementara itu, pada ranah peserta didik, perhatian khusus diarahkan pada penguatan fungsi Rohani Islam (ROHIS). Rebranding ROHIS dipandang penting agar organisasi ini semakin relevan dengan kebutuhan dan karakteristik generasi muda, sekaligus menjadi ruang pembinaan yang mampu mendorong tumbuhnya regulasi diri (self-regulation), kepedulian sosial, dan budaya saling menghargai.

Perencanaan kegiatan ROHIS juga perlu memperoleh pendampingan yang memadai agar program-programnya tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab persoalan aktual yang dihadapi peserta didik, termasuk fenomena perundungan dan kebutuhan penguatan karakter.

Dari sisi implementasi, KOPI PAGI dirancang dalam format serial webinar sebagai model pengembangan kapasitas yang fleksibel, terjangkau, dan menjangkau pemangku kepentingan secara lebih luas. Kendati demikian, kegiatan secara luring tetap terbuka untuk dilaksanakan sesuai kebutuhan dan karakteristik program. Pendekatan ini sekaligus membuka ruang sinergi lintas sektoral dengan melibatkan berbagai organisasi dan komunitas pendidikan, seperti Pokjawas PAI, KKG, MGMP, AGPAII, hingga organisasi kepemudaan.

Empowerment sebagai Orientasi Program

Substansi utama KOPI PAGI adalah pemberdayaan (empowerment) para pemangku kepentingan PAI, dengan Pengawas PAI sebagai salah satu fokus utama, disusul Guru PAI dan peserta didik. Orientasi ini menempatkan kolaborasi bukan sekadar sebagai pola koordinasi, melainkan sebagai strategi untuk membangun kapasitas, memperkuat jejaring profesional, dan menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan PAI.

Ketua Pokjawas PAI Provinsi Jawa Tengah, Kasan As'ari, menegaskan pentingnya keseriusan dalam mendesain program tersebut. Menurutnya, KOPI PAGI harus dirancang secara matang, terarah, dan memiliki kualitas implementasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kesungguhan dalam mengelola program ini menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas Pokjawas PAI sebagai organisasi profesi yang memiliki kontribusi strategis terhadap pengembangan pendidikan agama Islam.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Siti Nur Hidayati, Pengawas PAI Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas yang akrab disapa Inung, mendapat amanah sebagai Ketua Program KOPI PAGI, didampingi Amin Nur Baedi sebagai Sekretaris Program. Sementara itu, seluruh Pengurus Harian (PH) Pokjawas PAI Provinsi Jawa Tengah sebanyak delapan orang turut mengambil peran sebagai tim Humas dan Tim Teknologi Informasi (IT). Pembagian peran ini menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola program yang terorganisasi, profesional, dan berbasis kompetensi.

Inung menekankan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh figur tertentu, melainkan oleh soliditas seluruh anggota tim.

"Kita semua adalah tim. Karena itu, diperlukan kekompakan, visi, dan komitmen yang sama untuk menyukseskan program ini. Setiap anggota perlu saling menghargai dengan menempatkan personel sesuai kompetensi dan kapasitasnya masing-masing dalam pelaksanaan kegiatan," ungkap Inung.

Lebih lanjut, Inung memandang KOPI PAGI sebagai ruang kolaborasi yang strategis. Menurutnya, program ini tidak hanya memperluas jejaring kemitraan dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengangkat harkat dan martabat Pengawas PAI melalui kontribusi profesional yang terukur dan berdampak.

Dari aspek dukungan kelembagaan, pembiayaan program KOPI PAGI direncanakan bersumber dari Bidang PAI Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Dukungan tersebut menjadi bentuk komitmen kelembagaan dalam menguatkan sinergi antara unsur pembina teknis dan organisasi profesi Pengawas PAI. Dengan demikian, pelaksanaan program diharapkan memiliki landasan koordinasi, dukungan sumber daya, serta keberlanjutan yang lebih terarah.

Pencegahan Bullying dan Penguatan ROHIS Menjadi Prioritas

Kepala Bidang PAI Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Aini Sa'adah, dalam arahannya menekankan bahwa KOPI PAGI diharapkan berkembang menjadi program yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan PAI, tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengembangan PAI secara nasional.

Salah satu prioritas yang ditekankan adalah gerakan pencegahan perundungan (bullying). Isu ini tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan perilaku individual, melainkan berkaitan erat dengan pembentukan karakter, penguatan nilai kemanusiaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan pengembangan budaya sekolah yang aman serta inklusif. Dalam perspektif tersebut, pencegahan bullying memiliki keterkaitan substantif dengan Moderasi Beragama yang menjadi salah satu program mandatori Direktorat PAI Kementerian Agama RI.

Selain itu, penguatan pembinaan ROHIS juga menjadi perhatian penting. Ini untuk memastikan bahwa ROHIS benar-benar berkembang sebagai wadah pembinaan keagamaan yang moderat, inklusif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kewaspadaan terhadap kemungkinan pemanfaatan organisasi siswa oleh pihak-pihak yang dapat merusak citra dan marwah PAI perlu direspons melalui pembinaan yang terencana, edukatif, dan berkesinambungan.

Dengan demikian, penguatan ROHIS tidak cukup dilakukan melalui pengawasan semata, tetapi harus disertai pengembangan kapasitas pembina, pendampingan perencanaan kegiatan, serta penguatan literasi keagamaan yang moderat dan bertanggung jawab.

KOPI PAGI: Dari Gagasan Menuju Gerakan Kolaborasi

Sebagai tindak lanjut hasil koordinasi, KOPI PAGI direncanakan akan diluncurkan bertepatan dengan momentum Hari Guru Nasional di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah. Peluncuran tersebut akan menghadirkan narasumber sesuai bidang keahlian dan isu prioritas yang telah dipetakan dalam rancangan program.

Momentum ini diharapkan menjadi titik awal gerakan kolaborasi yang lebih sistematis dalam membangun ekosistem PAI yang responsif terhadap tantangan zaman. Melalui pendekatan berbasis kebutuhan, penguatan kompetensi, dan kemitraan lintas sektoral, KOPI PAGI diharapkan tidak berhenti sebagai agenda webinar, tetapi tumbuh menjadi ruang belajar bersama, pertukaran gagasan, sekaligus instrumen pemberdayaan pemangku kepentingan PAI.

Pada akhirnya, kemajuan Pendidikan Agama Islam tidak dapat dibangun secara parsial. Diperlukan kesatuan visi, komitmen, dan kerja kolektif seluruh elemen yang terlibat. KOPI PAGI hadir dengan semangat bahwa kolaborasi yang dirancang secara profesional, dilaksanakan secara konsisten, dan dievaluasi secara berkelanjutan akan menjadi energi penting bagi peningkatan mutu PAI di Jawa Tengah, sekaligus memperkuat kontribusi Pengawas PAI dalam transformasi pendidikan agama Islam secara nasional. nungh