Merasa Cukup Bukan Berarti Menyerah, Penyuluh KUA Cilongok Ajak Jamaah Memahami Makna Qanaah
CILONGOK – Di tengah kehidupan yang sering kali membuat manusia sibuk mengejar lebih banyak harta dan membandingkan diri dengan orang lain, sikap qanaah menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa mampu hati merasa cukup dan bersyukur.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Cilongok, Siti Juariyah, S.Pd., M.Pd., dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) di MT Baitusshomad, Jombor, Desa Cipete, Jumat (6/11/2026). Kegiatan yang dihadiri lebih dari 30 jamaah ini mengangkat tema tentang Qanaah.
Dalam penyampaiannya, Siti Juariyah menjelaskan bahwa qanaah merupakan sikap menerima dengan lapang dada segala ketetapan dan rezeki dari Allah SWT sebagai buah dari rasa syukur yang mendalam. Kekayaan sejati bukan semata-mata terletak pada banyaknya harta benda, melainkan pada kekayaan hati atau ghina an-nafs, yakni kemampuan merasa cukup atas karunia Allah.
Namun, qanaah bukan berarti berhenti berusaha atau pasrah tanpa ikhtiar. Seorang muslim tetap dituntut bekerja keras, berusaha maksimal, dan berdoa, tetapi mampu menerima hasilnya dengan lapang dada tanpa harus iri terhadap rezeki orang lain ataupun terjebak dalam sifat tamak.
Sebagai penguat materi, jamaah diajak memahami hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: "Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa (merasa cukup)." Pesan ini menjadi pengingat bahwa hati yang pandai bersyukur akan menemukan ketenangan, sekalipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, diharapkan jamaah MT Baitusshomad semakin memahami pentingnya menanamkan sikap qanaah dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, hidup berkecukupan bukan berarti memiliki segalanya, melainkan mampu mensyukuri apa yang ada tanpa berhenti berusaha meraih yang lebih baik.
