MAN 3 Banyumas Selenggarakan Wisuda Siswa Kelas XII

Oleh MAN 3 Banyumas
SHARE

 

Banyumas—MAN 3 Banyumas menyelenggarakan kegiatan wisuda bagi siswa kelas XII tahun pelajaran 2021/2022 pada Sabtu (21/5) di Aula Mantibas. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, segenap guru dan pegawai, pengurus komite, dan seluruh siswa kelas XII.

Kegiatan diawali prosesi wisudawan-wisudawati memasuki aula dengan iringan rebana sekitar pukul 08.00. Mereka duduk berdasarkan kelas dengan kursi yang telah diberi identitas nama dan kelas. Wisudawan mengenakan setelan jas, sedangkan wisudawati mengenakan kebaya dan kain. Begitu juga bapak ibu guru dan pegawai. Bapak-bapak guru dan pegawai mengenakan setelan jas, sedangkan ibu-ibu guru dan pegawai mengenakan kebaya muslimah dipadu kain batik atau songket. Pemandangan tersebut merupakan pemandangan langka yang tidak mesti terjadi sekali dalam satu tahun.

Seusai pembacaan ayat suci Al-Qur’an, hadirin menyanyikan lagu Indonesia bersama-sama. Hal itu merupakan kebiasaan seremonial yang dalam dua tahun terakhir tidak dapat dilaksanakan akibat pandemi Covid-19. Selama pandemi, acara seremonial hanya diperboleh memperdengarkan lagu Indonesia Raya. Laporan ketua panitia, Sheva kelas XI IPA 1, disampaikan dengan baik melalui tatanan kalimat yang bernas. Sambutan perwakilan kelas XII yang disampaikan Dian Nur Hanifah kelas XII IPA 1 mampu mencuri perhatian hadirin karena untaian kalaimat yang puitis penuh makna. Penyampaian yang lantang, lancar, dengan suara yang enak didengar menjadi daya tarik tersendiri.

Kepala MAN 3 Banyumas, Drs. Suratno, M.Pd.I., dalam sambutannya pun menyampaikan kekagumannya atas sambutan perwakilan kelas XII. Awalnya beliau meragukan jika teks sambutannya adalah tulisan Dian. Namun, Suratno ingat saat lomba cipta baca puisi, puisi karya Dian juga masuk dalam kategori puisi terbaik sehingga keraguannya pun hilang. Selain itu, Suratno menyampaikan rasa bangga dan terharu atas kerja keras panitia dan guru-guru pembina dan pembimbing kegiatan karena dalam waktu relatif singkat ternyata mampu menyuguhkan acara yang sederhana, apik, namun penuh makna. Pesan kepala madrasah kepada para siswa kelas XII disampaikan melalui kisah pewayangan, Ekalaya. “Ekalaya sangat ingin maju, terutama dalam keterampilan memanah. Dia mencari guru andal, Begawan Drona di Astina. Akan tetapi Drona tidak mau menerima Ekalaya sebagai muridnya karena sudah memiliki murid Pandawa Lima. Ekalaya kecewa. Namun, kekecewaan itu memacu semangatnya untuk belajar memanah secara otodidak. Saking inginnya menjadi murid Drona, dia membuat replika Drona yang selalu dipajang di tempat latihan memanah. Sebelum berlatih, dia selalu menghadap replika Drona, mohon doa restu dan mohon izin, agar memiliki kemampuan memanah yang bagus dan setelah itu baru berlatih. Dengan cara itu dan berlatih sungguh-sungguh, akhirnya kemampuan memanahnya jadi terasah luar biasa. Hingga suatu hari saat berburu kijang di hutan, ada seekor kijang, lalu dipanahnya kijang itu dan tepat sasaran. Ekalaya menghampiri kijang itu dan ternyata, ada dua anak panah di titik yang sama pada tubuh kijang itu. Tak lama kemudian datanglah Arjuna. Mereka berdua saling berebut dan saling klaim bahwa kijang itu miliknya. Arjuna menanyakan, siapa guru Ekalaya. Ekalaya menjawab bahwa gurunya bernama Drona. Arjuna pun mempertanyakan pada Drona, mengapa punya murid lain selain Pandawa. Drona pun menyampaikan bahwa tak pernah punya murid lain selain Pandawa. Namun, Ekalaya ingin diakui sebagai muridnya. Maka, Drona mensyaratkannya harus bertanding dengan Arjuna. Namun, Drona meminta Ekalaya melepas thumb ring Ekalaya. Thumb ring itu tak bisa dilepas sehingga harus dipotong. Akibatnya, Ekalaya tak dapat menahan anak panah dengan sempurna.” Kisah tersebut membuat hadirin terkesima. Suratno melanjutkan, “Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Ekalaya adalah bahwa siswa harus memiliki kesetiaan pada gurunya, memiliki kebiasaan giat belajar, tidak punya rasa malu dalam menuntut ilmu, berani menghadapi segala situasi, dan harus menghormati guru, pemimpin, dan orang tua. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ibarat burung, terbanglah yang tinggi, namun jangan pernah melupakan daratan. Jangan lupakan Mantibas ketika kalian telah sukses,” pungkasnya mengakhiri sambutan.

Prosesi wisuda diawali dengan 7 siswa berprestasi, 3 siswa kelas IPA, 3 siswa kelas IPS, dan seorang siswa kelas Keagamaan. Ke-7 siswa tersebut diwisuda oleh kepala madrasah. Setelah itu, berturut-turut adalah prosesi wisuda siswa kelas XII IPA 1, 2, dan 3, kelas IPS 1 dan 2, serta kelas Keagamaan. Wisuda dilakukan oleh Eny Fathatun Najihah, Sunar Purwoko, Supangkat, Surasno, Sri Budiman, Ahmad Ridlo, yang didampingi wali kelas masing-masing: Anung Mumpuni, Ulistinganatin Khanani, Supangkat, Surasno, Ismail, dan Ahmad Suyuti Latif. Prosesi wisuda berlangsung tertib dan lancar. Setiap siswa, selesai diwisuda langsung menuju ruang foto untuk mengabadikan momen bersejarah mereka dan setelah foto segera masuk ke aula kembali.

Ikrar alumni diucapkan bersama-sama oleh alumni MAN 3 Banyumas tahun 2022 dan dipimpin oleh Muhamad Sri Samudra kelas XII IPA 2. Penekanan ikrar adalah agar alumni senantiasa mampu menjaga nama baik almamater dan mampu selalu menebarkan kebaikan meskipun mereka telah lepas dari MAN 3 Banyumas.

Kegiatan wisuda diakhiri pukul 11.30 dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ahmad Ridlo, S.S., M.Pd.I. Meskipun acara wisuda tergolong sederhana, namun tak mengurangi makna dan kemeriahan suasana.

(Tim Media MAN 3 Banyumas)