HUT RI #81

Menemukan Validasi Sejati: Pesan Inspiratif Penyuluh di KUA Jatilawang

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak menyelimuti Balai Nikah Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang. Ruangan tersebut dipadati oleh sekitar tiga puluh orang anggota Dharma Wanita KUA Jatilawang yang hadir untuk mengikuti kegiatan pertemuan rutin bulanan. Acara yang biasanya diisi dengan koordinasi internal organisasi kali ini terasa lebih istimewa karena diisi dengan sesi pembinaan rohani berupa kuliah tujuh menit (kultum) yang sarat akan makna kehidupan sehari-hari. Jumat (02/10)

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan seorang Penyuluh Agama Islam berpengalaman, Ahmad Muttaqin, sebagai narasumber utama. Kehadiran beliau disambut baik oleh para peserta yang telah bersiap mendengarkan rangkaian acara sejak pagi hari. Dalam pemaparannya, Ahmad Muttaqin mengangkat sebuah tema yang sangat dekat dengan realitas kehidupan modern saat ini, yakni cara yang benar dalam mendapatkan validasi sosial maupun spiritual.

Di hadapan para peserta yang hadir, Ahmad Muttaqin membuka materi kultum dengan menyoroti fenomena psikologis manusia yang kerap haus akan pengakuan atau validasi dari lingkungan sekitar. Beliau menjelaskan bahwa dorongan untuk merasa diakui, dihargai, dan diterima adalah naluri alami setiap manusia. Namun, jika dorongan tersebut tidak diarahkan dengan benar, seseorang justru bisa terjerumus ke dalam lingkaran pencarian pengakuan yang keliru dan merugikan diri sendiri.

Lebih lanjut, penceramah merinci bahwa cara yang benar untuk mendapatkan validasi yang kokoh adalah dengan meletakkan Allah Swt. sebagai orientasi dan sumber validasi utama dalam setiap langkah kehidupan. Ketika seseorang beribadah dan berbuat baik semata-mata karena mengharap ridha Sang Pencipta, maka kepuasan batin yang sejati akan tercapai tanpa harus bergantung pada penilaian manusia yang kerap berubah-ubah.

Selain berorientasi kepada Sang Khalik, Ahmad Muttaqin juga menekankan pentingnya menebar kebaikan dan memberikan manfaat nyata bagi sesama manusia sebagai wujud validasi sosial yang sehat. Membangun harga diri yang kuat serta menjaga integritas diri di tengah dinamika sosial juga menjadi pilar penting agar seseorang tidak mudah goyah oleh standar kebahagiaan yang salah.

Sesi kultum menjadi semakin menarik ketika narasumber mulai mengupas sisi sebaliknya, yakni berbagai cara yang salah dan keliru dalam memburu validasi di era digital saat ini. H. Ahmad Muttaqin mengingatkan jamaah agar senantiasa berhati-hati terhadap bahaya pamer atau sifat riya, di mana amal kebaikan yang dilakukan tidak lagi ikhlas, melainkan semata-mata demi mendapatkan pujian, sanjungan, dan perhatian dari khalayak ramai.

Selain sifat riya, beliau juga menyoroti bahaya terjebak dalam standar hedonisme dan materialisme yang kerap mendefinisikan kesuksesan seseorang hanya dari harta benda, kemewahan materi, serta penampilan fisik semata. Standar semu seperti ini, menurut beliau, hanya akan menciptakan kecemasan sosial, tekanan mental, dan gaya hidup konsumtif yang menjauhkan seseorang dari ketenangan jiwa yang hakiki.

Tidak kalah penting, penceramah muda ini juga memperingatkan bahaya mencari validasi semu melalui kebohongan, kepalsuan, dan pencitraan berlebihan. Membentuk citra diri yang tidak sesuai dengan kenyataan demi mendapatkan pengakuan publik ibarat membangun istana di atas pasir yang sewaktu-waktu bisa runtuh dan mempermalukan diri sendiri di kemudian hari.

Penyampaian materi yang interaktif, renyah, dan sarat dengan contoh-contoh konkret membuat jalannya kultum terasa hidup dan tidak membosankan. Ibu-ibu anggota Dharma Wanita KUA Jatilawang tampak mendengarkan setiap kalimat yang disampaikan dengan penuh antusias, khusyuk, dan seksama dari awal hingga akhir acara tanpa ada rasa jenuh.

Beberapa peserta bahkan terlihat mengangguk-angguk tanda sepakat dengan poin-poin yang disampaikan, mengingat tema tersebut sangat relevan dengan peran mereka sehari-hari sebagai pendamping suami, pendidik bagi anak-anak di rumah, serta bagian dari masyarakat sosial yang dinamis. Suasana kebersamaan semakin terasa kental tatkala sesi interaksi dan tanya jawab dibuka oleh pemateri di penghujung acara.

Secara keseluruhan, rangkaian acara pertemuan rutin yang diisi dengan kultum keagamaan ini berjalan dengan sangat lancar, tertib, dan sukses mencapai tujuannya. Melalui kegiatan pembinaan singkat namun berbobot ini, diharapkan para anggota Dharma Wanita KUA Jatilawang dapat mengambil hikmah mendalam, senantiasa mawas diri, serta mampu menerapkan nilai-nilai ketulusan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat sehari-hari.