Menghindari Kebangkrutan Amal di Hadapan Allah
Jatilawang – Menjalankan ibadah dengan tekun belum tentu menjamin keselamatan seseorang di akhirat apabila tidak diiringi akhlak mulia dan kepedulian terhadap sesama. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dalam kegiatan Bimbingan Penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim (MT) Al Ikhlas melalui materi bertajuk “Jangan Sampai Rajin Beribadah, tetapi Bangkrut di Hadapan Allah.” (Rabu, 4/11)
Dalam penyampaiannya, Muhammad Taubah menguraikan bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya salat, puasa, dan zikir, tetapi juga tercermin dalam kemampuan menjaga lisan, menghindari kezaliman, menghormati sesama, serta menebarkan kemanfaatan. Ia mengingatkan jamaah tentang hadis Rasulullah SAW mengenai orang yang bangkrut (muflis), yakni mereka yang datang membawa pahala ibadah, tetapi kehilangan seluruh kebaikannya karena pernah menyakiti dan merugikan orang lain.
Ia mengajak jamaah menjadikan ibadah sebagai sumber pembentukan karakter dan akhlak sosial. Sebab, kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan kelembutan hati, menjauhkan manusia dari kesombongan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap penderitaan sesama. Ibadah yang benar bukan hanya memperindah hubungan dengan Sang Pencipta, tetapi juga menghadirkan kedamaian dalam hubungan antarmanusia.
Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Dengan demikian, kesalehan tidak hanya tercermin dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga terwujud melalui akhlak mulia dan perilaku yang membawa manfaat bagi sesama.(tum)
