HUT RI #81

Menjadi Suami Istri yang Dewasa , Bimwin KUA Jatilawang Kepada Catin

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
19 Okt 2026
17x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 19-10-2026 15:24
SHARE

Jatilawang — Cinta mungkin menjadi alasan dua insan memutuskan untuk menikah, tetapi kedewasaanlah yang membantu mereka menjaga ikatan itu ketika kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebab, pernikahan bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan, melainkan juga tentang belajar memahami, menerima kekurangan, dan tetap saling menggenggam ketika ujian datang silih berganti. Senin (19/10)

Pesan penuh makna tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Irfan dan Luthfa Idati. Melalui materi “Menjadi Suami Istri yang Dewasa”, keduanya diajak mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga yang kokoh, penuh kasih sayang, dan berlandaskan tanggung jawab serta nilai-nilai agama.

Dalam bimbingan tersebut, kedewasaan dalam pernikahan ditekankan bukan semata-mata ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuan mengelola emosi, mengendalikan ego, menghargai perbedaan, serta menyelesaikan persoalan dengan pikiran jernih dan hati yang lapang.

Sebab, setelah akad terucap, kehidupan tidak selalu dipenuhi senyum dan kata-kata manis. Ada pekerjaan yang melelahkan, kebutuhan keluarga yang terus bertambah, perbedaan pendapat yang tidak terhindarkan, hingga keadaan ketika salah satu pasangan membutuhkan pengertian lebih besar daripada biasanya.

Pada saat seperti itulah cinta diuji, bukan sekadar melalui kata-kata, tetapi melalui sikap dan tindakan.

Suami istri yang dewasa bukanlah pasangan yang tidak pernah berselisih, melainkan dua insan yang memilih untuk tidak saling menghancurkan ketika perbedaan muncul.

Muhammad Taubah mengajak calon pengantin memahami bahwa dalam rumah tangga, keinginan untuk selalu menang dapat berubah menjadi sumber luka. Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pembuktian siapa yang benar. Terkadang, kebijaksanaan justru hadir ketika seseorang bersedia menurunkan egonya, mendengarkan penjelasan pasangannya, dan mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Kedewasaan juga tercermin dari kemampuan menjaga lisan. Ketika marah, seseorang mungkin mudah melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Namun, kata-kata yang terucap sesaat bisa menetap lama dalam ingatan orang yang dicintai. Karena itu, pasangan perlu belajar menyampaikan kekecewaan tanpa menghina, memberikan teguran tanpa merendahkan, serta membicarakan masalah tanpa mengungkit segala kesalahan masa lalu.

Rumah tangga seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang, bukan tempat seseorang merasa takut menyampaikan isi hatinya.

Selain komunikasi, tanggung jawab menjadi bagian penting dalam membangun kedewasaan pasangan. Suami dan istri perlu bekerja sama dalam mengelola keuangan, menjalankan tanggung jawab keluarga, menjaga hubungan dengan keluarga besar, serta mengambil keputusan melalui musyawarah. Pernikahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling banyak berkorban, melainkan perjalanan untuk saling menguatkan sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing.

Dalam perspektif Islam, kehidupan rumah tangga diarahkan untuk menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah—ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya menjadi doa saat akad nikah, tetapi perlu diwujudkan melalui kesetiaan, penghormatan, kepedulian, dan kesediaan menjalankan amanah bersama.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21 bahwa di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah diciptakannya pasangan hidup agar manusia memperoleh ketenteraman, serta dijadikan-Nya rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pasangan bukanlah manusia sempurna yang selalu mampu memenuhi seluruh harapan kita. Ia adalah sesama manusia yang memiliki kelebihan, kekurangan, kelelahan, dan pergulatan hidupnya sendiri. Mencintai dengan dewasa berarti memberi ruang untuk bertumbuh, tanpa kehilangan komitmen untuk saling memperbaiki diri.

Bagi Irfan dan Luthfa Idati, bimbingan ini menjadi bekal berharga dalam memasuki kehidupan pernikahan. Keduanya diajak menyadari bahwa membangun keluarga yang harmonis membutuhkan kesediaan untuk terus belajar. Belajar meminta maaf ketika bersalah, memaafkan tanpa terus mempermalukan, serta memahami bahwa pasangan terkadang tidak membutuhkan nasihat panjang, melainkan kehadiran yang tulus dan telinga yang bersedia mendengarkan.

Ada kalanya seorang suami pulang dengan tubuh lelah dan pikiran penuh beban. Ada kalanya seorang istri menyimpan kesedihan yang tidak mudah diungkapkan. Dalam keadaan demikian, perhatian sederhana dapat menjadi penguat yang luar biasa: menanyakan kabar dengan tulus, membantu tanpa diminta, atau berkata lembut, “Tidak apa-apa, kita hadapi bersama.”

Barangkali tindakan itu tampak kecil bagi dunia, tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi hati pasangan.

Pada akhirnya, keberhasilan pernikahan tidak hanya diukur dari berapa lama dua orang tinggal dalam satu atap, tetapi juga dari seberapa jauh mereka mampu menjaga kehormatan, merawat kepercayaan, dan menghadirkan ketenteraman bagi satu sama lain. Sebab, hidup bersama bukan berarti tidak pernah terluka, melainkan bersedia menyembuhkan luka dengan cara yang benar dan tidak sengaja menciptakan luka baru.

Pernikahan yang dewasa adalah ketika dua orang tidak lagi sibuk menuntut pasangannya menjadi sempurna, tetapi bersama-sama berusaha menjadi lebih baik.

Semoga Irfan dan Luthfa Idati mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Keluarga yang tidak hanya kuat ketika rezeki berlimpah dan kebahagiaan datang, tetapi juga tetap teguh ketika kesulitan mengetuk pintu kehidupan.

Sebab, kelak ketika usia menua, rambut memutih, dan langkah tak lagi sekuat hari pertama bersama, semoga keduanya masih dapat saling menatap dengan syukur. Bukan karena perjalanan mereka tanpa masalah, melainkan karena di sepanjang perjalanan itu, mereka telah belajar mencintai dengan lebih dewasa, memaafkan dengan lebih tulus, dan menjaga janji dengan sepenuh hati.

Sebab, cinta yang paling berharga bukanlah cinta yang hanya indah ketika diucapkan, melainkan cinta yang tetap terasa aman ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.