HUT RI #81

KUA Jatilawang Gelar Bimwin : Menata Masa Depan, Berdamai dengan Masa Lalu

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
19 Okt 2026
15x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 19-10-2026 15:16
SHARE

Jatilawang – Setiap orang memiliki kisah yang pernah membuatnya tersenyum, tetapi tidak sedikit pula yang menyimpan luka di balik perjalanan hidupnya. Ada kenangan yang ingin dipeluk kembali, ada pula pengalaman yang harus dilepaskan dengan lapang dada. Namun, masa lalu bukanlah akhir dari segalanya. Selama masih ada harapan, setiap orang berhak menata kembali kehidupan dan membangun kebahagiaan yang baru. Senin (19/10)

Pesan penuh makna itulah yang disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada pasangan calon pengantin, Sugeng Prayitno yang berstatus duda dan Fitriyani yang berstatus janda. Bimbingan tersebut mengangkat tema melupakan masa lalu, mengambil hikmah darinya, dan menjadikannya bekal berharga untuk membangun rumah tangga yang lebih baik.

Dalam suasana bimbingan yang hangat dan penuh kekeluargaan, Muhammad Taubah mengajak kedua calon pengantin memahami bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan juga mempertemukan dua perjalanan hidup yang berbeda. Keduanya datang dengan pengalaman, kenangan, serta pelajaran masing-masing. Karena itu, diperlukan kedewasaan hati untuk menerima masa lalu tanpa membiarkannya merusak kebahagiaan yang sedang dirintis.

“Masa lalu tidak harus dihapus dari ingatan, tetapi jangan sampai ia terus menguasai kehidupan. Ambillah pelajarannya, perbaikilah kekurangannya, kemudian melangkahlah menuju masa depan dengan hati yang lebih lapang. Jangan biarkan luka kemarin menjadi alasan untuk melukai pasangan hari ini,” pesan Muhammad Taubah.

Ia menjelaskan bahwa melupakan masa lalu bukan berarti menyangkal kenyataan atau menganggap pengalaman sebelumnya tidak pernah terjadi. Justru, kedewasaan seseorang terlihat dari kemampuannya menerima kenyataan, memetik hikmah, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pengalaman pahit dapat menjadi guru yang berharga apabila dihadapi dengan kejujuran dan kebijaksanaan.

Bagi pasangan yang hendak menikah kembali setelah menjalani kehidupan rumah tangga sebelumnya, tantangan yang dihadapi tidak selalu sederhana. Mungkin ada kenangan yang sesekali muncul, kekhawatiran akan kegagalan yang sama, atau kebiasaan membandingkan pasangan sekarang dengan pasangan terdahulu. Apabila tidak disikapi dengan bijak, hal-hal tersebut dapat menumbuhkan prasangka dan menghambat tumbuhnya kepercayaan.

Oleh karena itu, Sugeng dan Fitriyani diajak untuk membangun komunikasi yang terbuka, menjaga kepercayaan, menghormati perasaan satu sama lain, serta tidak menjadikan masa lalu sebagai senjata ketika terjadi perselisihan. Kesalahan yang telah berlalu hendaknya menjadi bahan introspeksi, bukan bahan untuk saling menghakimi. Sebab, rumah tangga yang sehat bukanlah rumah tangga tanpa persoalan, melainkan rumah tangga yang mampu menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan martabat pasangan.

Muhammad Taubah juga mengingatkan pentingnya menerima pasangan sebagai pribadi yang memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Tidak adil apabila seseorang menuntut pasangannya selalu sempurna, sementara dirinya pun memiliki kekurangan. Cinta yang dewasa tidak tumbuh dari tuntutan agar pasangan menjadi seperti yang diinginkan, tetapi dari kesediaan untuk saling memahami, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.

Dalam perspektif Islam, harapan untuk memperbaiki kehidupan senantiasa terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesalahan dan pengalaman masa lalu tidak semestinya memadamkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Pernikahan yang akan dibangun Sugeng dan Fitriyani diharapkan menjadi ruang untuk menumbuhkan ketenteraman, kasih sayang, dan saling menguatkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 21, pasangan diciptakan agar manusia memperoleh ketenteraman dan dijadikan di antara mereka rasa kasih dan sayang.

Ketenteraman itu tidak hadir dengan sendirinya. Ia perlu dirawat melalui kesetiaan, kesabaran, keterbukaan, dan kemauan untuk saling memaafkan. Setiap hari menjadi kesempatan untuk membuktikan cinta, bukan hanya melalui kata-kata manis, melainkan juga melalui sikap yang menghargai dan tindakan yang menenteramkan.

Bimbingan tersebut juga mengingatkan bahwa memulai kembali bukanlah tanda kelemahan. Ada keberanian besar dalam diri seseorang yang bersedia membuka hati setelah melewati perjalanan yang tidak mudah. Ada keteguhan dalam diri mereka yang memilih kembali percaya, meskipun pernah mengenal kecewa. Dan ada keindahan dalam dua insan yang sepakat untuk tidak membiarkan pengalaman kemarin merampas kesempatan mereka untuk bahagia hari ini.

Pada akhirnya, masa lalu adalah bagian dari perjalanan, bukan tempat untuk selamanya menetap. Ia boleh menjadi kenangan, tetapi masa depan tetap harus diperjuangkan. Sugeng dan Fitriyani diharapkan mampu menjadikan pengalaman terdahulu sebagai bekal untuk membangun rumah tangga yang lebih matang, saling menghormati, dan dipenuhi kasih sayang.

Sebab, pernikahan yang baik bukanlah tentang menemukan seseorang yang tidak memiliki masa lalu, melainkan tentang menemukan dua hati yang bersedia belajar darinya dan bersama-sama memperjuangkan masa depan.

Semoga langkah baru Sugeng Prayitno dan Fitriyani menjadi perjalanan menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Semoga segala luka yang pernah singgah menjelma kebijaksanaan, segala kekhawatiran berubah menjadi kehati-hatian, dan setiap harapan menemukan jalannya dalam doa serta ikhtiar.

Karena terkadang, kebahagiaan bukan tentang mengulang kisah yang telah berlalu, melainkan tentang keberanian menulis kisah baru—dengan hati yang lebih dewasa, cinta yang lebih bijaksana, dan keyakinan bahwa hari esok masih menyimpan banyak kebaikan.