Menjaga Cinta dengan Keikhlasan dan Kesabaran

Oleh KUA JATILAWANG
SHARE

Banyumas — Di sebuah pagi yang tenang, ketika cahaya mentari menyelinap lembut melalui jendela-jendela Kantor Urusan Agama (KUA) Jatilawang, sebuah kisah cinta sederhana namun penuh makna resmi ditautkan dalam ikatan suci pernikahan. Iskandar Zulkarnain, selaku penghulu KUA Jatilawang, dengan penuh khidmat memimpin prosesi pencatatan nikah dan ijab qabul pasangan Aji Satrio dan Siti Khadijah, yang berasal dari Desa Bantar. Selasa (21/04)

Suasana ruangan yang tidak begitu luas itu seketika terasa hangat oleh kehadiran keluarga dan saksi yang menyertai. Tak ada kemewahan yang berlebihan, namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan keagungan makna: dua insan yang telah memilih untuk berjalan bersama, menapaki kehidupan dengan niat ibadah dan cinta yang tulus.

Dengan suara yang tenang namun berwibawa, Iskandar Zulkarnain memandu setiap tahapan prosesi. Kata demi kata ijab qabul mengalun seperti doa yang menggema di relung hati. Saat Aji Satrio dengan mantap mengucapkan kabul, seolah waktu berhenti sejenak—memberi ruang bagi haru yang tak terucap. Air mata pun jatuh perlahan, bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan yang terlalu dalam untuk sekadar disimpan.

Siti Khadijah, dengan wajah yang teduh, tampak menundukkan pandangan. Di balik diamnya, tersimpan doa-doa panjang yang kini mulai menemukan jawabannya. Ia bukan hanya menerima seorang suami, tetapi juga amanah besar untuk bersama-sama membangun bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Pencatatan nikah yang dilakukan pada hari itu bukan sekadar formalitas administratif, melainkan penegasan atas sebuah ikatan yang diakui agama dan negara. Di tangan penghulu, janji itu dicatat, disahkan, dan disaksikan—menjadi bukti bahwa cinta yang dirawat dengan kesungguhan akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan.

Dalam keterangannya, Iskandar Zulkarnain menyampaikan harapan agar pasangan pengantin senantiasa menjaga komitmen yang telah diikrarkan. “Pernikahan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang perjalanan panjang ke depan. Semoga keduanya mampu menjaga cinta dengan keikhlasan dan kesabaran,” ujarnya.

Hari itu, KUA Jatilawang kembali menjadi saksi lahirnya sebuah keluarga baru. Bukan sekadar dua nama yang disatukan dalam buku nikah, melainkan dua hati yang telah sepakat untuk saling menguatkan dalam suka dan duka. Dan di antara doa-doa yang terucap lirih, terselip harapan sederhana: semoga cinta Aji Satrio dan Siti Khadijah senantiasa tumbuh, seperti pagi yang selalu datang—setia, hangat, dan penuh harapan.