Pemberdayaan Ekonomi Dan Wirausaha Bagi Remaja Di Desa Bantar
Jatilawang — Masa muda adalah musim terbaik untuk menanam harapan. Pada usia ketika mimpi tumbuh tinggi dan langkah masih panjang, para remaja membutuhkan lebih dari sekadar nasihat; mereka membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan keberanian untuk membangun masa depan dengan tangan sendiri. Rabu (14/10)
Semangat itulah yang mengemuka dalam tukar pikiran antara Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, dengan Mas Heri, tokoh pemuda Desa Bantar, mengenai pemberdayaan ekonomi dan pengembangan wirausaha di kalangan remaja.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan tentang pentingnya membekali generasi muda dengan keterampilan, kemandirian, serta jiwa kewirausahaan. Remaja tidak hanya perlu dipersiapkan agar mampu mencari pekerjaan, tetapi juga didorong untuk melihat peluang, mengembangkan kreativitas, dan berani menciptakan usaha sesuai potensi yang dimiliki.
Di tengah tantangan ekonomi dan persaingan dunia kerja, pemberdayaan remaja menjadi ikhtiar yang patut mendapat perhatian bersama. Banyak anak muda menyimpan gagasan dan semangat besar, tetapi belum tentu memiliki akses terhadap pelatihan, modal, pendampingan, maupun jaringan usaha. Karena itu, dukungan keluarga, masyarakat, tokoh pemuda, dan berbagai pihak sangat diperlukan agar potensi tersebut tidak berhenti sebagai angan-angan.
Muhammad Taubah memandang bahwa pemberdayaan ekonomi juga dapat menjadi bagian dari pembinaan karakter. Semangat berwirausaha perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, amanah, dan kepedulian sosial. Usaha yang baik bukan semata-mata tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh, melainkan juga tentang bagaimana rezeki dicari melalui jalan yang halal dan membawa manfaat bagi orang lain.
Sementara itu, peran tokoh pemuda seperti Mas Heri penting dalam mendorong lahirnya gerakan kewirausahaan yang dekat dengan kehidupan remaja. Potensi lokal dapat menjadi titik awal, mulai dari usaha kuliner, kerajinan, pertanian, jasa, hingga pemasaran produk melalui media digital. Dengan pendampingan yang tepat, langkah kecil yang dimulai hari ini berpeluang tumbuh menjadi sumber penghasilan dan membuka kesempatan kerja bagi lingkungan sekitarnya.
Bayangkan seorang remaja yang dahulu hanya bisa menyimpan keinginan karena keterbatasan ekonomi, kemudian perlahan belajar membuat produk, menawarkan jasa, atau memasarkan hasil karyanya. Ketika usahanya mulai menghasilkan, yang tumbuh bukan hanya pendapatan, melainkan juga rasa percaya diri. Ia mulai memahami bahwa masa depan tidak semata-mata ditunggu, tetapi dapat diperjuangkan melalui ikhtiar, pengetahuan, dan kesungguhan.
Di balik setiap anak muda yang ingin mandiri, mungkin ada orang tua yang diam-diam berdoa agar anaknya kelak memiliki kehidupan lebih baik. Ada ibu yang berharap anaknya tidak terus-menerus merasa kekurangan, serta ayah yang menyimpan keinginan sederhana agar kelak anaknya mampu berdiri tegak tanpa kehilangan kehormatan. Pemberdayaan ekonomi, dengan demikian, bukan sekadar urusan angka dan keuntungan, melainkan juga tentang menjaga harapan sebuah keluarga.
Melalui tukar pikiran ini, diharapkan tumbuh sinergi antara penyuluh agama, tokoh pemuda, dan masyarakat dalam membuka ruang belajar serta peluang usaha bagi remaja. Gagasan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha pemula, pengenalan pemasaran digital, dan penguatan jejaring pelaku usaha sesuai kebutuhan serta potensi Desa Bantar.
Pada akhirnya, remaja yang berdaya bukan hanya mereka yang mampu menghasilkan uang sendiri, melainkan juga mereka yang sanggup menjaga integritas, menghargai proses, dan menggunakan keberhasilannya untuk memberi manfaat. Sebab, kemiskinan kesempatan tidak boleh mematikan kekayaan cita-cita. Ketika generasi muda diberi ruang untuk belajar dan berusaha, yang tumbuh bukan hanya wirausaha baru, tetapi juga harapan bagi keluarga, kekuatan bagi desa, dan masa depan yang lebih bermartabat.
