NYADONG BAROKAH BERSAMA JAMAAH THARIQAT NAQSYABANDI

Oleh KUA Ajibarang
SHARE

Komunitas thariqat merupakan kelompok yang familier di kalangan Islam di Nusantara. Thariqah sendiri bermakna jalan, artinya jalan keistiqomahan yang dipilih seseorang dalam bingkai syariat Islam. Thariqat disebut sebut sebagai tindak lanjut atau semacam tahap yang lebih tinggi, setelah seorang muslim menjalankan syariat. Seorang pelaku thariqat memang dianjurkan relatif sudah mapan secara syariat, artinya sudah menjalankan kewajiban syariat dengan baik dan kontinyu. Dengan bekal syariat yang sudah dijalani dengan baik, seseorang memasuki tahap selanjutnya dengan memilih metode atau jalan tertentu, dalam mendekatkan diri kepada Allah. Metode thariqat pada intinya adalah dzikir atau wirid yang digariskan dan dibimbing oleh seorang seorang guru atau mursyid, yang secara turun temurun memiliki rantai silsilah (sanad) yang menyambung hingga Rasulullah saw.

Di kecamatan Ajibarang sendiri, ada banyak komunitas Thariqat. Beberapa yang masyhur diantaranya adalah Thariqat Syadziliyah, Thariqat Naqsyabandi, Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan Thariqat Syattariyah Pengguron Cirebon. Setiap Thariqat memiliki mursyid (guru pembimbing) dan metode dzikir tertentu.

Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Ajibarang, Muhammad Zainur Rakhman, berkesempatan untuk bersilaturrahmi dengan jamaah Thariqat Naqsyabandi, di Ndalem Romo Kyai Bahrun, di Grumbul Kuripan, Desa Banjarsari. Sebagai penyuluh Agama Islam Fungsional Kecamatan Ajibarang yang membawahi wilayah 15 Desa, kegiatan Turba (turun ke bawah) sudah menjadi rutinitas harian. Pada hari Selasa, 2 November 2021, pada pukul 10.30, penyuluh Agama Islam sowan silaturrahmi ke kediaman Romo Kyai Bahrun, dan bertepatan dengan acara pengajian thariqat Naqsyabandi. Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Ajibarang yang sedianya hanya ingin berkenalan, mengenalkan diri sebagai penyuluh serta sosialisasi layanan kepenyuluhan, malah diminta oleh Romo Kyai Bahrun untuk mengisi ta’lim. Akhirnya, dengan niat khidmah dan menjalankan dawuh Romo Kyai, maka mengalirlah ceramah dadakan sekitar setengah jam, membahas tentang tiga pangkal dosa, dengan perumpamaan kisah Iblis, kisah Qabil, dan kisah Qarun.

Tiga pangkal dosa yang menjadi induk dari lahirnya bermacam dosa-dosa manusia, yakni ‘ujub (merasa lebih baik dari orang lain), hasad (tidak suka dengan nikmat yang diterima oleh orang lain), dan serakah (menginginkan nikmat orang lain, untuk dirinya sendiri, tidak pernah puas dan cukup). Dengan latar belakang keilmuan tasawuf, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kecamatan Ajibarang, memang akrab dengan tema tema yang sesuai dengan dunia thariqat. Beliau sendiri adalah pengamal thariqat Syadziliyyah lebih dari dua belas tahun. Sehingga, apa yang disampaikan juga sangat pas dengan konteks pengajian thariqat tersebut, terbukti dengan penerimaan jamaah yang khusyuk menyimak, sesekali diselingi humor khas sufi, sehingga suasana menjadi cair dan gayeng.

Setelah foto-foto dan sholat dzuhur berjamaah, tidak lupa, Beliau juga bertabarruk dengan Romo Kyai Nurcholis, yang merupakan Guru Badal, yang menjadi pembicara utama, dan mengisi ta’lim sebelumnya. Bahkan, Beliau mengantarkan Romo Kyai Nurcholis, dengan sepeda motor Beat Orange nya, sampai ke kediaman Romo Kyai di Desa Krajan, Pekuncen (sekitar puluhan kilometer), dalam kondisi hujan yang amat lebat. Melayani warga dan terutama para ‘alim kesepuhan, adalah sumber keberkahan dan ketentraman batin. Itulah makna yang dipegangnya sebagai seorang penyuluh agama.