Nyalakan Cahaya Kartini di Hati Generasi Qurani TPQ Nurul Huda
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Di tengah suasana yang sederhana namun sarat makna, lantunan ayat suci Al-Qur’an yang biasa menggema di TPQ Nurul Huda siang itu berpadu dengan kisah perjuangan seorang perempuan agung bangsa. Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, dengan penuh ketulusan dan kelembutan hati, mengajarkan kepada para santri tentang perjuangan Raden Ajeng Kartini—sebuah pelajaran yang bukan hanya mengisi pikiran, tetapi juga menyentuh relung jiwa. Selasa (21/04)
Duduk bersila di hadapan anak-anak yang masih belia, Muhammad Taubah tidak sekadar bercerita. Ia menghadirkan Kartini sebagai sosok nyata yang hidup dalam semangat, keberanian, dan doa. Dengan bahasa yang sederhana namun mengalir indah, ia menggambarkan bagaimana seorang perempuan muda berjuang melawan keterbatasan demi membuka jalan bagi generasi masa depan.
“Anak-anak,” ucapnya dengan suara hangat, “Kartini mengajarkan kita bahwa ilmu adalah cahaya. Dan kalian, yang hari ini belajar Al-Qur’an, sedang menyalakan cahaya itu dalam diri kalian.”
Kalimat itu seolah mengetuk hati para santri. Mata-mata kecil yang semula riang perlahan menjadi teduh, seakan mencoba memahami bahwa perjuangan tidak selalu tentang perang, tetapi tentang keteguhan hati dalam menuntut ilmu dan memperjuangkan kebaikan.
Di sudut ruangan, beberapa santri tampak menunduk haru. Mereka mungkin belum sepenuhnya mengerti kompleksitas sejarah, tetapi mereka merasakan getaran keikhlasan dari setiap kata yang disampaikan. Dalam kesunyian itu, benih-benih kesadaran mulai tumbuh—bahwa mereka adalah bagian dari generasi yang harus melanjutkan perjuangan, dengan cara mereka sendiri.
Muhammad Taubah menjelaskan bahwa semangat Kartini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi ilmu, akhlak, dan kesetaraan dalam kebaikan. Ia mengajak para santri untuk tidak hanya mengenang Kartini sebagai tokoh sejarah, tetapi meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari—dengan rajin belajar, menghormati orang tua, dan berani bermimpi.
Kegiatan ini bukan sekadar pembelajaran biasa. Ia menjelma menjadi momen refleksi yang menghidupkan kembali makna perjuangan dalam bentuk yang paling murni: pendidikan dan keteladanan. Di TPQ Nurul Huda, Kartini hadir bukan dalam bentuk potret atau seremoni, tetapi dalam semangat yang menyala di hati anak-anak yang sedang belajar membaca firman Tuhan.
Hari itu, ruang kecil itu menjadi saksi bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar usai. Ia terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui tangan-tangan tulus para pendidik dan hati-hati bersih para santri. Dan di antara lantunan doa yang perlahan terucap, tersimpan harapan yang begitu dalam: semoga dari tempat sederhana ini, lahir Kartini-Kartini baru—yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, membawa cahaya bagi dunia, sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh sang pelopor emansipasi.
