HUT RI #81

Pahala Tadarus yang Getarkan Jiwa

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
26 Feb 2026
45x dibaca
SHARE

Banyumas — Senja Ramadhan merambat pelan di halaman Taman Pendidikan Al-Qur’an Nurul Huda. Di antara suara anak-anak yang melafalkan huruf demi huruf Al-Qur’an, tersimpan harapan besar tentang masa depan iman. Pada suasana yang sederhana namun sarat makna itu, Muhammad Taubah, Penyuluh Agama dari KUA Jatilawang, hadir mengajar para santri tentang kemuliaan pahala tadarus Al-Qur’an di bulan suci Ramadhan. Kamis (26/02)

Dengan suara yang lembut dan penuh kasih, Muhammad Taubah menatap wajah-wajah kecil yang memegang mushaf dengan tangan mungil mereka. Ia tidak sekadar mengajar, tetapi menanamkan makna. Di hadapan para santri TPQ Nurul Huda, ia menyampaikan bahwa setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca di bulan Ramadhan bukan hanya bernilai pahala, melainkan juga cahaya yang kelak menerangi kehidupan.

“Ketika kalian membaca Al-Qur’an,” ucapnya lirih namun menggetarkan, “setiap huruf menjadi doa, setiap ayat menjadi saksi, dan setiap tadarus menjadi tangga menuju ridha Allah.” Kalimat itu membuat suasana hening. Seolah-olah mushaf yang terbuka di pangkuan para santri ikut mendengarkan, ikut bersaksi.

Ia menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan ketika langit dan bumi saling berdekatan. Tadarus bukan sekadar rutinitas, melainkan perjumpaan antara hamba dan firman-Nya. Dalam kesungguhan membaca, anak-anak diajarkan mencintai Al-Qur’an sejak dini—cinta yang kelak tumbuh menjadi akhlak, menjadi adab, menjadi jalan hidup.

Beberapa santri terlihat menggenggam mushaf lebih erat. Ada mata polos yang berbinar, ada pula yang menunduk khusyuk, seakan memahami bahwa apa yang mereka baca hari ini akan menjadi bekal di masa depan. Di situlah air mata kerap jatuh diam-diam—bukan karena sedih, melainkan karena haru menyaksikan generasi kecil yang sedang memeluk cahaya besar.

Kegiatan belajar mengajar itu berlangsung sederhana, tanpa panggung megah dan sorotan lampu. Namun justru dalam kesederhanaan itulah nilai Ramadhan menemukan maknanya. Seorang penyuluh, sekelompok santri, dan Al-Qur’an—cukup untuk menggerakkan hati dan menggugah nurani.

Ketika pelajaran usai dan doa penutup dipanjatkan, sore itu meninggalkan kesan mendalam. TPQ Nurul Huda tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga ladang pahala dan harapan. Dari tadarus yang tulus, dari suara-suara kecil yang bergetar, Ramadhan kembali mengajarkan bahwa masa depan umat dijaga oleh mereka yang mencintai Al-Qur’an sejak dini—dengan hati yang bersih dan air mata yang jujur.