Pengawas PAI Kawal Remaja Usia Sekolah melalui BRUS di SMK Maarif NU Cilongok
Oleh HUMAS
Cilongok — Upaya membangun ketahanan diri dan karakter positif remaja usia sekolah terus diperkuat melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas tersebut berlangsung di SMK Ma’arif NU Cilongok, dengan peserta siswa SMK Ma’arif NU Cilongok. Kegiatan dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin, didampingi Kasi Bimas Islam, Agus Setiawan. Selasa (18/08)
BRUS hadir sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi remaja agar mampu memahami dirinya, mengelola emosi, membangun komunikasi yang sehat, serta mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab. Pendekatan ini penting karena masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai perubahan emosi yang cepat dan intens. Pengelolaan emosi yang kurang baik dapat memengaruhi kualitas relasi sosial dan mendorong munculnya keputusan yang bersifat impulsif. Dalam perspektif materi BRUS, penguatan kemampuan emosional dan komunikasi diarahkan untuk membantu remaja menghindari pergaulan berisiko dan pernikahan usia sekolah.
Kegiatan menghadirkan para fasilitator yang telah mengikuti Diklat Binwin, serta praktisi pendidikan dan dosen yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan rekam jejak sebagai narasumber maupun fasilitator pada tingkat nasional. Salah satunya adalah Siti Nur Hidayati, dosen pada salah satu perguruan tinggi di wilayah Cilacap, yang mendapat amanah menyampaikan dua materi strategis, yaitu Pengelolaan Emosi dan Keterampilan Komunikasi serta Pengambilan Keputusan. Kedua materi tersebut dirancang tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi mendorong peserta untuk berlatih mengenali emosi, berkomunikasi secara efektif, dan merefleksikan konsekuensi dari setiap pilihan.
Pada materi Pengelolaan Emosi dan Keterampilan Komunikasi, peserta diajak mengenali berbagai emosi serta belajar mengekspresikannya secara sehat. Keterampilan komunikasi juga ditekankan melalui kemampuan mendengarkan secara aktif, menyampaikan perasaan dengan jelas dan santun, serta membangun koneksi sebelum memberikan koreksi atau nasihat. Bahkan, peserta dilatih menghadapi situasi konflik yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti konflik dengan teman, guru, saudara, maupun orang tua.
Sementara itu, materi Pengambilan Keputusan: Memilih dengan Nilai dan Arah Hidup menempatkan setiap pilihan remaja sebagai bagian dari proses pembentukan masa depan. Peserta diajak memahami bahwa keputusan yang tampak sederhana dapat membawa konsekuensi terhadap pendidikan, relasi, reputasi, kesehatan, dan masa depan. Karena itu, nilai hidup perlu menjadi “kompas” dalam menentukan pilihan, terutama dengan mempertimbangkan prinsip halal, thayyib, dan ma’ruf. Pendekatan praktisnya dilakukan melalui lima langkah: berhenti dan mengelola emosi, memeriksa pilihan berdasarkan nilai, membayangkan dampaknya, memilah hal yang berada dalam lingkar kendali, kemudian memilih tindakan yang paling aman dan bertanggung jawab.
Melalui BRUS, sekolah, Kementerian Agama, fasilitator, orang tua, dan lingkungan sosial diharapkan dapat membangun ekosistem pendidikan remaja yang preventif, reflektif, dan berbasis nilai. Remaja tidak hanya diarahkan untuk mengetahui apa yang benar, tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan diri, berkomunikasi secara sehat, mempertimbangkan konsekuensi, dan berani memilih tindakan yang selaras dengan nilai serta cita-cita hidupnya. Dengan demikian, BRUS menjadi bagian penting dari ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan mampu menjaga masa depannya secara sadar. __nungh
