HUT RI #81

Penyuluh Somagede Menunda Lelah Demi Mencetak Generasi Qurani

HUMAS
HUMAS
11 Feb 2026
22x dibaca
SHARE

Banyumas - Pernahkah Anda membayangkan sebuah pengabdian yang tidak mengenal kata "pulang"? Bagi sebagian orang, berakhirnya jam kantor adalah garis finis untuk melepas penat dan merebahkan diri di sofa rumah. Namun, bagi sosok Penyuluh Agama Islam Kecamatan Somagede, garis finis itu hanyalah pergantian estafet dari satu pengabdian ke pengabdian lainnya. Di saat matahari mulai condong ke ufuk barat, semangat mereka justru sedang menyala kembali, membuktikan bahwa manfaat bagi sesama tidak dibatasi oleh jam kerja formal. Rabu (11/02)

Bagi seorang Penyuluh Agama Islam Somagede, seragam dinas mungkin telah ditanggalkan saat melangkah masuk ke gerbang rumah, namun jiwa mendidik tidak pernah ikut dilepas. Fenomena "menunda lelah" ini menjadi pemandangan harian yang mengharukan sekaligus membanggakan. Alih-alih beristirahat setelah seharian melayani masyarakat di kantor, rumah mereka bertransformasi menjadi oase ilmu bagi anak-anak sekitar.

Di TPQ Hidayatussibyan Somakaton, suasana sore hari tidak pernah sepi. Suara riuh rendah anak-anak yang membawa Iqra dan Al-Qur’an menjadi musik pengiring yang lebih merdu daripada keheningan istirahat. Di sinilah esensi sejati dari seorang penyuluh: menjadi pelita bagi lingkungan terdekatnya sendiri.

Mengapa Penyuluh Agama Islam Somagede Memilih Terus Bergerak?
Pertanyaan besar yang sering muncul adalah: apa yang memotivasi mereka untuk tetap tegak berdiri membimbing santri di saat raga sudah menuntut haknya untuk beristirahat? Jawabannya sederhana namun mendalam: Mumpung masih diberi waktu.

Kesadaran akan terbatasnya umur dan kesempatan membuat para penyuluh ini merasa bahwa setiap detik adalah investasi akhirat. Mereka memahami bahwa menjadi bermanfaat bagi sesama, terutama dalam membekali generasi muda dengan ilmu agama, adalah bentuk syukur yang paling nyata atas kesehatan dan kesempatan yang diberikan Tuhan.

TPQ Hidayatussibyan yang berlokasi di Somakaton bukan sekadar tempat mengaji biasa. Ini adalah bukti nyata kolaborasi antara peran formal sebagai penyuluh dan peran sosial sebagai tokoh masyarakat. Di rumah Penyuluh Agama Islam inilah, kurikulum langit diajarkan secara sederhana namun konsisten.

Setiap sore, puluhan anak hadir dengan antusias. Mereka tidak hanya datang untuk menggugurkan kewajiban belajar, tetapi karena merasakan kehangatan bimbingan dari sosok yang mereka teladani.

Jenjang Pembelajaran yang Komprehensif
Di bawah bimbingan Penyuluh Agama Islam Somagede, pembelajaran di TPQ Hidayatussibyan disusun secara bertahap untuk memastikan pemahaman yang kokoh:

Metode Iqra: Fondasi utama bagi pemula untuk mengenal huruf hijaiyah dan makhraj yang benar.
Tadarrus Al-Qur’an: Pendampingan intensif bagi anak-anak yang sudah mulai lancar membaca agar memiliki tartil yang indah.
Latihan Membaca Kitab: Bagi remaja, mereka mulai diperkenalkan dengan literatur klasik atau kitab kuning dasar untuk memperdalam khazanah keislaman.

Tugas Penyuluh Agama Islam Somagede di sore hari bukan sekadar mengajar baca tulis huruf Arab. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga minat anak-anak dan remaja agar tetap mencintai rumah ibadah dan ilmu agama di tengah gempuran distraksi digital (gadget).

Para penyuluh menggunakan pendekatan yang ramah dan adaptif. Mereka tidak memposisikan diri sebagai guru yang kaku, melainkan sebagai orang tua kedua atau kakak bagi para remaja. Hal ini penting agar: Remaja merasa nyaman berdiskusi tentang masalah keseharian, Anak-anak merasa belajar agama adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan beban, Terjalin ikatan emosional yang kuat antara pendidik dan santri.

Hingga menjelang Maghrib, diskusi-diskusi kecil sering terjadi. Mulai dari tata cara ibadah hingga pembentukan karakter (akhlak). Waktu-waktu emas ini dimanfaatkan sebaik mungkin sebelum adzan berkumandang, menandai berakhirnya sesi belajar sore dan dimulainya ibadah jamaah.

Menanam Benih di Masa Muda, Menuai Bakti di Masa Depan
Apa yang dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam Somagede hari ini adalah investasi jangka panjang. Dengan membimbing anak-anak Somakaton sejak dini, mereka sedang membangun benteng pertahanan moral bagi desa tersebut.

"Kami hanya ingin memastikan bahwa saat kami sudah tidak lagi mampu berdiri, ada generasi yang melanjutkan syiar ini dengan benar. Lelah itu manusiawi, tapi melihat anak-anak bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih adalah obat penawar lelah yang paling mujarab." — Sebuah prinsip yang dipegang teguh.

Aksi nyata "menunda lelah" ini membawa dampak signifikan bagi lingkungan sekitar, antara lain:

  1. Pengurangan Angka Buta Aksara Al-Qur’an: Memastikan setiap anak di lingkungan tersebut bisa mengaji.
  2. Lingkungan yang Positif: Anak-anak memiliki kegiatan terarah di waktu sore sehingga terhindar dari perilaku negatif.
  3. Peningkatan Literasi Keagamaan: Pengajaran kitab bagi remaja memberikan kedalaman pemahaman agama yang moderat dan toleran.

Penyuluh Agama Islam di Somagede adalah potret pahlawan masa kini yang bekerja dalam sunyi. Mereka tidak mengejar panggung utama, namun peran mereka sangat vital dalam menjaga denyut nadi spiritualitas masyarakat. Menunda lelah demi anak-anak bangsa adalah sebuah pilihan sadar yang lahir dari ketulusan hati.

Melalui blog https://kuasomagede23.blogspot.com/ kita belajar bahwa profesi bukan sekadar urusan administrasi di kantor, melainkan tentang bagaimana kita membawa nilai-nilai profesi tersebut ke dalam kehidupan nyata untuk kemaslahatan umat.

Sumber Berita : Yasaroh
Editor : Humas KUA Somagede