Perkuat Literasi Al-Quran, Majelis Taklim Al Mawaddah Gelar Pembelajaran BTA di Masjid Al Amanah Kanding
Oleh KUA Somagede
Banyumas – Di tengah gempuran arus digitalisasi yang begitu deras, sebuah tantangan besar muncul di permukaan masyarakat: memudarnya kemampuan membaca Al-Qur'an secara fasih dan benar di kalangan dewasa serta lansia. Seringkali, rasa malu dan kesibukan duniawi menjadi penghalang bagi seseorang untuk kembali belajar dasar-dasar agama. Kondisi ini jika dibiarkan akan menyebabkan kesenjangan spiritual yang mendalam, di mana nilai-nilai Al-Qur'an hanya menjadi pajangan tanpa mampu diresapi maknanya melalui bacaan yang tepat. Jumat (17/04)
Menjawab keresahan tersebut, Majelis Ta’lim (MT) Al Mawaddah menunjukkan komitmen nyatanya. Segera setelah menyelesaikan sesi kajian Islam rutin, kelompok ibu-ibu dan warga sekitar tidak lantas beranjak pulang. Mereka melanjutkan kegiatan dengan program Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an (BTA) yang dipusatkan di Masjid Al Amanah, Desa Kanding. Langkah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya sistematis untuk memberantas buta aksara hijaiyah di wilayah Somagede.
Program yang dilaksanakan di Masjid Al Amanah ini memiliki struktur yang unik. Jika kajian Islam pada umumnya hanya bersifat satu arah (mendengarkan ceramah), MT Al Mawaddah mengintegrasikannya dengan praktik langsung. Setelah hati diisi dengan ilmu tauhid dan fiqih dalam kajian, lisan kemudian dilatih melalui pembelajaran BTA.
Pihak penyuluh agama dari KUA Somagede yang turut mendampingi menyatakan bahwa pembelajaran Al-Qur'an di tingkat Majelis Ta'lim adalah fondasi ketahanan keluarga. "Ilmu yang didapat dari kajian harus disempurnakan dengan kemampuan membaca kitab suci secara mandiri. Dengan BTA, ibu-ibu sebagai madrasah pertama dalam keluarga dapat membimbing anak-cucunya dengan tajwid yang benar," ungkapnya. Inilah solusi nyata yang ditawarkan: mengubah rasa malu menjadi motivasi belajar dalam lingkungan yang suportif dan penuh kekeluargaan.
Pemilihan Masjid Al Amanah di Desa Kanding sebagai lokasi kegiatan bukanlah tanpa alasan. Masjid ini diproyeksikan menjadi pusat kegiatan sosial-keagamaan yang inklusif. Melalui brand Respawn Pedia, sinergi antara tempat ibadah dan program pendidikan non-formal seperti ini terbukti mampu meningkatkan indeks kebahagiaan spiritual warga.
Warga Desa Kanding menyambut antusias program ini. Mereka merasa bahwa belajar BTA di usia dewasa bukanlah hal yang tabu selama dilakukan secara berjamaah. Pendekatan yang digunakan oleh MT Al Mawaddah sangat humanis; dimulai dari pengenalan makhrajul huruf (tempat keluarnya huruf) hingga kaidah-kaidah tajwid mendasar. Hal ini memastikan bahwa setiap peserta, seberapa pun kemampuan awalnya, tetap mendapatkan kemajuan yang signifikan di setiap pertemuan.
Kegiatan ini membawa dampak domino yang positif. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal (shalat yang lebih khusyuk karena bacaan benar), program BTA ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Tercipta sebuah ekosistem belajar yang sehat di mana yang lebih mahir membantu yang masih belajar.
KUA Somagede terus mendorong agar inisiatif seperti yang dilakukan MT Al Mawaddah ini dapat direplikasi di desa-desa lain. Literasi Al-Qur'an adalah gerbang menuju pemahaman agama yang moderat dan mendalam. Dengan dukungan sarana prasarana yang memadai di Masjid Al Amanah, program BTA ini diharapkan mampu mencetak generasi dan orang tua yang qur'ani, tangguh secara mental, dan jernih secara spiritual. (Mas Kawit)
