HUT RI #81

Ramadhan Sebagai Sekolah Kehidupan Bagi Hati yang Ingin Tumbuh Bersih

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
12 Feb 2026
41x dibaca
SHARE

Banyumas — Cahaya matahari merambat pelan di halaman TPQ Nurul Huda. Suara anak-anak mengaji bersahutan, polos dan jujur, seperti doa-doa kecil yang terbang tanpa ragu ke langit. Di hadapan mereka, duduk seorang penyuluh agama dengan wajah teduh: Muhammad Taubah, Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang, yang datang membawa lebih dari sekadar materi—ia membawa makna. Kamis (12/02)

Dengan bahasa yang lembut dan tutur yang merangkul, Muhammad Taubah mengajak para santri menyelami keistimewaan Puasa Ramadhan. Ia tidak menggurui. Ia bercerita. Tentang lapar yang mendidik sabar, tentang dahaga yang mengajarkan empati, dan tentang Ramadhan sebagai sekolah kehidupan bagi hati yang ingin tumbuh bersih.

“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum,” ucapnya pelan, menatap wajah-wajah kecil yang mendengarkan penuh takzim. “Puasa adalah saat Allah mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih baik.”

Bagi santri TPQ Nurul Huda, sebagian di antaranya baru pertama kali belajar berpuasa penuh, penjelasan itu terasa dekat dan menghangatkan. Muhammad Taubah menyampaikan keutamaan Ramadhan dengan kisah sederhana—tentang pahala yang dilipatgandakan, doa yang lebih mudah dikabulkan, dan hati yang dilatih untuk peduli pada sesama.

Di sela penyampaian materi, ia kerap tersenyum, memberi ruang bertanya, bahkan menanggapi celoteh polos santri yang bertanya tentang lapar, haus, dan waktu berbuka. Suasana menjadi hidup, penuh tawa kecil yang jujur, namun sarat pembelajaran.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen KUA Jatilawang melalui para penyuluh agamanya untuk menghadirkan dakwah yang membumi—menyentuh sejak usia dini, menanamkan nilai keislaman dengan kasih sayang, bukan ketakutan.

Bagi Muhammad Taubah, mengajar santri TPQ bukan sekadar tugas. Ia adalah amanah. “Anak-anak ini adalah masa depan agama dan bangsa,” ujarnya. “Jika sejak kecil mereka mencintai Ramadhan, kelak mereka akan mencintai nilai-nilai kebaikan.”

Sore pun beranjak senja. Para santri pulang dengan langkah kecil dan mata berbinar, membawa cerita tentang puasa yang tak lagi terasa menakutkan. Di hati mereka, Ramadhan bukan sekadar kewajiban, melainkan anugerah.

Di TPQ Nurul Huda hari itu, Puasa Ramadhan tidak hanya diajarkan—ia dihidupkan. Dan melalui tangan serta kata-kata Muhammad Taubah, nilai-nilai itu dititipkan pada generasi yang kelak akan menjaga cahaya iman tetap menyala.