Renungan Panjang Dibalik Tragedi 30 September

Oleh HUMAS
SHARE

56 tahun yang lalu,  30 September 1965 sebuah tragedi nasional terjadi di Indonesia dimana enam  jenderal dan satu perwira menengah TNI AD gugur menjadi korban kekejaman politik saat itu. Kita mengenalnya dengan Gerakan 30 September (G30S), dan Lubang Buaya telah menjadi saksi bisu akan tragedi kelabu tersebut.

Setiap tanggal 1 Oktober, Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Kesaktian Pancasila, peringatan ini dimaksudkan untuk mengenang kembali sejarah dalam mempertahankan ideologi bangsa. Selain itu, Hari Kesaktian Pancasila juga sebagai wujud penghormatan terhadap jasa para Pahlawan Revolusi.

Dengan memperingati Hari Kesaktian Pancasila tahun  2021,  ini merupakan moment yang bagus bagi  para pemuda, para pelajar dan para santri yang sedang menuntut ilmu untuk mengenang para pahlawan, para suhada yang telah kokoh  mempertahankan kemerdekaan sejak tahun 1945.

Kesaktian pancasila ini menjadi bukti bahwa bangsa indonesia didukung oleh  seluruh elemen masyarakat, para ulama, TNI, Polri dan unsur lainnya yang telah  kokoh mempertahankan kesatuan negara RI ini dengan semangat yang tingggi , tenaga dan bahkan harus mengorbankan nyawa.  Hal ini membuktikan bahwa perjuangan itu cukup berat.  dan musuh bisa datang dari luar maupun dari dalam.

Bagi kita yang sedang  menikmati saat ini , yang pertama  harus betul betul mensyukuri nikmat Allah Tuhan YME, kedua mengisi kemerdekaan sesuai dengan tugasnya masing masing, ketiga wajib mempertahankan negara kesatuan RI yang telah diperjuangkan, dipertahankan khususnya oleh para pahlawan yang telah gugur 30 September  tahun 1965 sehingga Pancasila tetap kokoh menjadi dasar negara Republik Indonesia.

Kita sebagai Bangsa Indonesia jangan lengah, tetap waspada , bersatu padu kompak menjaga kebersamaan agar negara kesatuan RI tetap bertahan dari rongrongan yang datang dari luar maupun dari dalam, inilah muhasabah kita.

Negara kita terdiri dari banyak suku dan bahasanya beragam , tidak ada golongan minoritas tidak ada golongan mayoritas , semua agama kita harus saling menghargai, saling menghormati, saling mempunyai rasa kemanusiaan, demi  kemaslahatan umat, demi kepentingan bersama negara kesatuan Republik Indonesia.

Inilah pentingnya moderasi beragama, dan kita sebagai ASN kementerian agama wajib menjadi suri tauladan. (tum)

 

Sumber  :  

wawancara dengan Drs.H.Akhsin Aedi, M.Ag 

(Kakan Kemenag Banyumas)

Penulis   : Yudi Tumenggung