Bahas Sifat yang Dibenci Allah SWT, Penyuluh Beri Bimbingan Agama di MT Nurul Hikmah

Oleh HUMAS
SHARE

Banyumas - Dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama Islam di tengah masyarakat, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Wangon, Ahmad Muttaqin, melaksanakan bimbingan dan penyuluhan (Bimluh) di Majelis Taklim (MT) Nurul Hikmah, Desa Klapagading Kulon, Kecamatan Wangon. Selasa (02/12)

Bimluh rutin yang dihadiri oleh banyak jamaah yang seluruhnya kaum hawa ini dilaksanakan di Mushalla Baitul Ikhwan, Klapagading Kulon, setiap Selasa sore pukul 14.00 hingga 15.00 WIB.

Para jamaah menunjukkan antusiasme tinggi saat mendengarkan materi yang disampaikan. Topik yang dibahas pada pertemuan kali ini cukup menarik dan menggelitik, yaitu mengenai sifat-sifat yang tidak disukai oleh Allah SWT, yang harus dihindari oleh setiap muslim.

Ahmad Muttaqin menyampaikan materi dengan jelas dan mudah dipahami, diselingi lantunan sholawat untuk menghidupkan suasana. Beliau secara tegas menyampaikan sifat yang harus kita hindari agar dicintai oleh Allah SWT.

Sifat yang harus kita hindari agar dicintai oleh Allah Swt yaitu :

  1. Mutakallif. Mutakallif adalah orang yang suka memaksakan diri dalam segala hal, sebaiknya tidak kita lakukan demi kebaikan diri, karena melakukan hal-hal yang melewati batas hanya akan menyakiti diri kita, sebab menuntut sempurna diri dalam segala hal terkadang justru hanya akan membuat kita menjadi tidak realistis dalam berpikir, bahkan rentan mengalami stres.
  2. Munafiq. Munafik adalah perbuatan tercela yang ditandai dengan adanya perbedaan antara ucapan dan tindakan seseorang, serta tidak konsisten dalam perkataan dan perbuatan. 
  3. Dengki. Pengertian dengki adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki oleh orang yang didengki hilang dan berpindah kepada orang yang mendengki.
  4. Dhalim. Dhalim artinya melakukan sesuatu yang tidak semestinya, tidak adil, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
  5. Riya. Riya adalah memamerkan amal ibadah atau kebaikan agar mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia, bukan karena Allah semata. Perilaku ini dianggap sebagai bentuk pamer, sombong, syirik kecil (menyekutukan Allah dengan selain-Nya), dan penyakit hati dalam ajaran Islam. 
  6. Musrif. Sifat berlebihan disebut " israf " atau " ghuluw ", terutama dalam konteks agama dan akhlak. Israf merujuk pada tindakan atau ucapan yang melampaui batas wajar, sementara ghuluw adalah istilah yang lebih umum untuk sikap ekstrem atau berlebihan, adapun orang yang melakukan israf disebut “Musrif”.  Istilah terkait sifat berlebihan ada dua yakni israf dan ghuluw. Israf merupakan perilaku yang mengonsumsi sesuatu secara berlebihan hingga melampaui kebutuhan dan menimbulkan mudarat, seperti makan, minum, atau belanja berlebihan, orang yang melakukannya disebut musrif. Sementara ghuluw adalah sikap atau perilaku yang melampaui batas atau ekstrem. Ini adalah istilah umum dalam Islam yang merujuk pada segala bentuk sikap berlebihan.
  7. Fasiq. Fasiq adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, atau menyimpang dari jalan yang benar. Secara etimologis, kata "fasiq" berarti "keluar" atau "menyimpang", sementara secara terminologis, ia merujuk pada seseorang yang tidak melaksanakan perintah agama meskipun telah mengetahuinya. Fasiq melanggar ketaatan terhadap Allah dan Rasul, tetapi masih memiliki iman, sedangkan kafir adalah keluar dari agama Islam sama sekali. 
  8. Malas. Malas adalah kondisi tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, yang diakibatkan oleh perasaan enggan atau kurangnya keinginan untuk bertindak. Tanda orang yang malas, mengundur-undur kewajiban hingga akhir waktu sedemikian hingga  terabaikan.
  9. Lalai. Lalai adalah sikap kurang hati-hati, ceroboh, atau tidak mengindahkan kewajiban, yang bisa mengarah pada kegagalan atau kerugian. Istilah ini digunakan baik dalam konteks sehari-hari maupun hukum, di mana kelalaian merujuk pada kegagalan untuk bertindak dengan tingkat kehati-hatian yang wajar, seperti yang akan dilakukan orang lain dalam situasi yang sama

Contoh perbuatan lalai :
a. Dalam kehidupan sehari-hari : Seseorang yang tidak mengunci pintu rumahnya dan kemudian rumahnya kemalingan dapat dianggap lalai, karena ia gagal melakukan tindakan pencegahan yang wajar untuk melindungi propertinya.
b. Dalam agama : kelengahan hati dari mengingat Tuhan dan akhirat, serta terbuai oleh kesenangan duniawi, ini dapat tercermin dalam tindakan, seperti mengerjakan ibadah tanpa kekhusyukan. 


Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari Selasa sore pukul 14.00 - 15.00 di Mushalla Baitul Ikhwan Klapagading Kulon Kecamatan Wangon, para jama'ah merasa senang dan berharap dapat mengikuti kegiatan serupa pada kesempatan berikutnya. "Kami sangat bahagia karena memperoleh banyak ilmu agama khususnya terkait tema kali ini yg sangat menarik. ucap salah satu jama'ah."