Perkuat Karakter Bangsa Lewat Zikir, KUA Gumelar Bedah Keutamaan Kalimat Thayyibah di Desa Cihonje
Oleh HUMAS
Gumelar – Kantor Urusan Agama (KUA) Gumelar terus mengintensifkan program penyuluhan keagamaan hingga ke pelosok desa. Kali ini, tim Penyuluh Agama Islam KUA Gumelar menyambangi Majelis Ta’lim (MT) Hijrotunnisa yang berlokasi di RW 08 Desa Cihonje untuk memberikan penguatan spiritualitas bagi masyarakat setempat. Selasa (28/04)
Kegiatan rutin yang dipandu oleh Kambali beserta tim Penyuluh Agama Islam ini mengangkat tema sentral "Fadhilah Kalimat Thayyibah". Tema ini dipilih untuk mengingatkan kembali jamaah bahwa setiap ucapan yang baik memiliki dampak besar bagi ketenangan batin dan keteguhan iman.
Dalam paparannya, penyuluh menekankan bahwa Kalimat Thayyibah bukan sekadar ucapan lisan, melainkan fondasi iman yang kokoh. Beberapa poin inti yang disampaikan meliputi:
-
Kalimat Tauhid (Laa ilaha illallah): Ditegaskan sebagai Miftahul Jannah (kunci surga) dan dzikir paling utama yang berfungsi memurnikan niat manusia.
-
Tasbih, Tahmid, dan Takbir: Rangkaian kalimat untuk mensucikan Allah, mensyukuri nikmat agar keberkahan bertambah, serta menanamkan sifat rendah hati.
-
Istighfar (Astaghfirullah): Sebagai solusi spiritual untuk membuka pintu rezeki dan jalan keluar dari setiap kesulitan hidup.
Kehadiran penyuluh agama di RW 08 Desa Cihonje ini membawa dampak positif yang signifikan bagi jamaah MT Hijrotunnisa. Selain meningkatkan literasi keagamaan, kegiatan ini menjadi sarana "terapi" kesehatan mental. Dzikir yang dipahami maknanya terbukti mampu memberikan ketenangan hati (Thuma'ninah) di tengah kesibukan sehari-hari.
Lebih dari itu, forum ini menjadi wadah penguatan Ukhuwah Islamiyah, di mana silaturahmi antar warga terjalin lebih erat melalui pengajian yang edukatif.
Konsistensi para penyuluh KUA Gumelar dalam menyambangi desa-desa seperti Cihonje merupakan langkah strategis dalam menjaga kerukunan umat. Dengan hadirnya penyuluhan yang benar, masyarakat diharapkan memiliki benteng ideologi yang kuat terhadap pemahaman keagamaan yang menyimpang.
"Kami ingin memastikan bahwa syiar Islam yang damai dan sejuk sampai ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga kerukunan di wilayah Gumelar tetap terjaga dengan baik," ujar salah satu tim penyuluh.
